Selasa, 24 September 2019

Penelitian Deskriptif


-->

PENELITIAN DESKRIPTIF

Oleh : Bohri Rahman

  1. PENDAHULUAN.
Dari arti kata, sebenarnya sudah bisa diaraba apa sebenarnya penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi setatus suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan (Arikunto,2009:234). Dengan metode deskriptif, penelitian memungkinkan untuk melakukan hubungan antar berbagai variabel, menguji hipotesis, mengembangkan generalisasi, dan mengembangkan teori yang memiliki validitas universal (Aminuddin, -----:120). Dalam hal ini, Arikunto berbeda pandangan, ia menjelaskan bahwa penelitian deskriftif tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang suatu variabel, gejala atau keadaan. Memang ada kalanya dalam penelitian ingin juga membuktikan dugaan tetapi tidak terlalu lazim. Yang umum adalah bahwa penelitian deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis.(Arikunto,2009:134).
Penelitian deskriptif pada umumnya menarik para peneliti muda, karena bentuknya sangat sedarhana dengan mudah dipahami tanpa perlu memerlukan teknik statiska yang kompleks. Walaupun sebenarnya tidak demikian kenyataannya. Karena penelitian ini sebenarnya juga dapat ditampilkan dalam bentuk yang lebih kompleks, misalnya dalam penelitian penggambaran secara faktual perkembangan sekolah, kelompok anak, maupun perkembangan individual. Penenelitian deskriptif juga dapat dikembangkan ke arah penenelitian naturalistik yang menggunakan kasus yang spesifik malalui deskriptif mendalam atau dengan penelitian setting alami fenomenologis dan dilaporkan secara tehnick description (deskripsi mendalam) atau dalam penelitian ex-postfacto dengan hubungan antar variabel yang lebih kompleks.
Perlu diperhatikah bahwa semua studi deskriptif tidak selalu termasuk kedalam penelitian. Menurut Aminudin ( :120), ada perbedaan antara asesmen (assessment), evaluasi, dan penelitian. Asesmen berusaha mendeskripsikan status atau keadaan fenomena pada suatu tertentu tampa pertimbangan nilai; ia tidak membirakan rekomendasi atau saran ke arah tindakan. Dalam bidang pendidikan asesmen biasanya dipakai untuk mendeskripsikan kemajuan yang dicapai oleh para murid menuju tujuan pendidikan pada kurun waktu tertentu. Asesmen tidak digunakan untuk menentukan efektifitas suatu proses atau program tertentu. Sementara evaluasi merupaka pertimbangan nilai dengan manfaat efektifitas atau kelayakan suatu proses produk atau program. Mekipun, seringkali evaluasi mengmukakan rekomendasi kearah tindakan praktis berupa saran kearah perbaikan.
  1. PENGERTIAN PENELITIAN DESKRIPTIF.
Sebagaimana telah dijelakan diawal bahwa, penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi setatus suatu gejala yang ada. Dengan kata lain studi (penelitian) deskriptif berusaha mendeskripsi dan menginterfretasi suatu objek penelitian sesuai dengan apa adanya. Penelitian ini juga sering disebut non-eksperimen, karena pada penelitian ini penelitian tidak melakukan kontrol dan manipulasi variabel penelitian.
Untuk lebih memahami pengertian penelitian ini baiknya kita memperhatikan kasus berikut: seorang peneliti suatu saat berlebaran di Desa kelahirannya yang sudah lama ia tinggalkan. Pada malam lebaran ia menemukan banyak anak-anak muda di desanya yang bermain petasan. Bahkan beberapa diantaranya kebut-kebutan di jalan raya. Padahal, ini kampung terpencil yang jauh dari keramain kota. Peneliti itu bertanya dalam hati kapan anak-anak muda ini mulai punya kebiasaan seperti itu, padahal sepuluh tahun yang lalu ketika ia muda tidak ada yang main petasan apa lagi kebut-kebutan di jalan. Di dalam hati sang peneliti ini berjejal beberapa pertanyaan mengenai kebiasaan buruk anak-anak muda di kampunya. Maka disusunlah rencana penelitian sederhana dan dirumuskan beberapa problema penelitian.
Penelitian yang dilakukannya merupakan penelitian deskriptif karena:
a. penelitian ini tidak bermaksud untuk menguji hipotesis tetapi hanya ingin mengetahui tentang bagaimana anak-anak muda di kampungnya itu sehingga mempunyai kebiasaan yang kurang baik. misalnya: (1). apakah anak-anak muda itu tidak mengetahui akibat terburuk dari ledakan petasan?, (2). dari mana mereka mendapatkan petasan?, (3). siapa dan bagaimana mereka bisa mengenal petasan, dst.
b. Penelitian tidak ingin menghubungkan variabel yang satu dengan variabel yang lain, misalnya hubungan antara variabel ‘dampak globalisasi dan media informasi’ dengan variabel ‘anak-anak muda di kampong x’, tetapi hanya ingin mengetahui keadaan masing-masing variabel secara lepas.
Informasi yang diperoleh dari penelitian ini barangkali dapat dipergunakan untuk merancang suatu kegiatan rehabilitasi moralitas pada anak-anak muda dikampung x tersebut agar mereka tidak menularkan kebiasaan mereka pada generasi berikutnya.
  1. TUJUAN PENELITIAN DESKRIPTIF
Penelitian deskriptif pada umumnya dilakukan dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan subjek yang diteliti secara tepat. Dalam perkembangan akhir-akhir ini, metode penelitian deskriptif juga banyak di lakukan oleh para peneliti karena dua alasan. Pertama, dari pengamatan empiris didapat bahwa sebagian besar laporan penelitian di lakukan dalam bentuk deskriptif. Kedua, metode deskriptif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia.

Disamping kedua alasan seperti tersebut di atas, penelitian deskriptif yang baik sebenarnya memiliki proses dan kadar yang sama seperti penelitian kuantitatif lainnya. Disamping itu, penelitian ini juga memerlukan tindakan yang teliti pada setiap komponennya agar dapat menggambarkan subjek atau objek yang diteliti mendekati kebenaranya. Sebagai contoh, tujuan harus diuraikan secara jelas, permasalahan yang diteliti signifikan, variabel penelitian dapat diukur, teknik sampling harus ditentukan secara hati-hati, dan hubungan atau komparasi yang tepat perlu dilaukan untuk mendapatkan gambaran objek atau subjek yang diteliti secara lengkap dan benar.

Dalam penelitian deskriptif, peneliti tidak melakukan manipulasi variabel dan tidak menetapkan peristiwa yang akan terjadi, dan biasanya menyangkut peristiwa-peristiwa yang saat sekarang terjadi. Dengan penelitian deskriptif, peneliti memungkinkan untuk menjawab pertanyaan penelitian yang berkaitan dengan hubungan variabel atau asosiasi, dan juga mencari hubungan komparasi antar variabel.

Penelitian deskriptif mempunyai keunikan seperti berikut. Penelitian deskriptif menggunakan koesioner dan wawancara, seringkali memperoleh responden yang sangat sedikit, akibatnya biasa dalam membuat kesimpulan. Penelitian deskriptif yang menggunakan observasi, kadang kala dalam pengumpulan data tidak memperoleh data yang memadai. Untuk itu diperlukan para observer yang terlatih dalam observasi, dan jika perlu membuat chek list lebih dahulu tentang objek yang perlu dilihat, sehingga peneliti memperoleh data yang diinginkan secara objektif dan reliable. Penelitian deskriptif juga memerlukan permasalahan yang harus diidentifikasi dan dirumuskan secara jelas, agar di lapangan, peneliti tidak mengalami kesulitan dalam menjaring data yang diperlukan.
D. JENIS-JENIS PENELITIAN DESKRIPTIF
Ada beberapa jenis penelitian yang dapat dikategorikan penelitian deskriptif (Arikunto,2009:136) yaitu: penelitian surve (survey studies), studi kasus ( case studies), penelitian perkembangan (developmental studies), penelitian tindak lanjut ( follow up studies), analisis dokumen (dekumentary analysis), dan penelitian korelasional ( korelation studies ).
  1. Penelitian Survei ( Survey Studies ).
Penelitian survey (Survey Studies) menurut Fraenkel dan Wallen mengatakan
Researchers are often interested in the opinions of a large group of people abaut a particular topic or issue (fraenkel, Wallen,2007:397).
Penelitian survey banyak dilakukan oleh peneliti dibidang: kemasyarakatan, bisnis, politik, dan pendidikan.penelitian yang terkenal adalah dengan The Gallup poll yang dimaksudkan untuk mengetahui pandapat masyarakat. Misalnya penelitian yang dilakukan oleh tukang kue yang mengamati model kue yang bagaimana yang paling digemari oleh pembeli, apakah yang model kubus, bundar atau persegi. Yang dilakukan oleh tukang kue itu juga merupakan survey.
Informasi yang diperoleh dari penelitian survey dapat dikumpulkan dari seluruh populasi dan dapat pula dari sebagian dari populasi (Arikunto,2009:236). Servei yang dilakukan kepada seluruh populasi yang ada dinamakan survey sensus sementara survey yang dilakukan hanya kepada sebagian populasi dinamakan survey sampel.
  1. Penelitian Kasus ( Case Studies )
Ada kemiripan antara penelitian kasus dan penelitian eksperimen satu variabel, yaitu sama-sama memiliki satu variabel dalam kajian yang dilakukan. Yaitu jika penelitian eksperimen satu variabel mengenai satu subjek tunggal sedangkan penelitian kasus mengenai sebuah unit terpisah yang tunggal misalnya sebuah keluarga, sebuah kelompok atau suatu unit rumah tangga. Perbedaan keduanya terletak pada obyek kajian masing-masing. Dalam penelitian eksperimen satu variabel peneliti hanya memokuskan perhatian pada satu jenis tingkah laku atau dalam jumlah yang terbatas, sementara penelitian kasus peneliti mencoba menggambarkan subyek penelitian didalam keseluruhan tingkah laku, yaitu tingkah laku itu sendiri beserta hal-hal lain yang melingkunginya.
Di dalam penelitian kasus peneliti mencermati subjek penelitian atau sebuah unit secara mendalam. Peneliti mencoba menemukan semua variabel penting yang mendasari serta perkembangan variabel yang diteliti. Menurut Arikunto dalam bukunya menejemen penelitian (2009:238) ada tiga tekanan dalam penelitian kasus yaitu, (1). mengapa individu tersebut bertindak demikian, (2). apa wujud tindakan itu, dan (3). bagaimana ia bertindak bereaksi terhadap lingkungannya. Konsekuensi dari penelitian kasus yang dilakuka dengan baik adalah bahwa penelitian tersebut harus dilakukan dalam waktu yang relative lama.
  1. Penelitian Perkembangan (developmental studies).
Penelitian Perkembangan (developmental studies) merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan subyek, misalnya bagaimana bayi berkembang ditinjau dari fisik dan fsikisnya, bagaimana penerapan model pembelajaran diskusi dari waktu ke waktu, perkembangan tipe dan cc sepeda motor dan sebagainya yang bersipat tumbuh menjadi lebih baik.
Dalam penelitian ini terdapat dua metode yang bisa dilakukan yaitu metode alur panjang (longitudinal method) dan metode silang-sekat (cross-sectional method).
    1. metode alur panjang ( longitudinal method ) ini meneliti satu varibel dalam waktu yang panjang, misalnya penelitian terhadap perkembangan orang dewasa, maka penelitian akan dimulai dengan mengidentifikasim sekelompok orang dewasa sebagai subjek; mengukur variabel terpisah seperti minat, kepuasan tujuan, pola hidup dan lain-lain. Dan kemudian melanjutkan pada subjek yang sama setiap lima tahun.
    2. metode silang-sekat (cross-sectional method).
Dalam bentuk ini subjek penelitian bisa dikelompokkan menurut kelompok umur atau usia, misalnya pada penelitian perkembangan orang dewasa tadi penelitian bisa dilaksanakan pada satu kurun waktu tertentu dengan membuat kelompok usia. misalnya usia 20-, 25-, 30-, 35-, dan 40.
Kedua metode ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, diantar kelebihan metode alur panjang adalah:
a. karena subjek yang diteliti tetap, maka kemungkinan adanya pengaruh variabel lain saat pergantian subjek tidak ada.
b. Hasil pengukuaran merupakan hasil yang murni karena peneliti akan sangat memahami subjek penelitiannya sehingga pengontrolan terhadap hal-hal yang berpengaruh pada variabel penelitan dapat dikendalikan.
Sedangka kebaika dari metode silang-singkat antara lain:
a. kesimpulan dapat segera diambil karena tidak perlu menunggu mengamati dalam waktu yang panjang.
b. Variabel-variabel lain dapat diantisipasi oleh peneliti karena waktu penelitian yang singkat.
c. Kemungkinan untuk kehilangan subjek sangat kecil karen peneliti lebih mudah untuk mempertahankan subjeknya.
Disamping keduanya memiliki kelebihan kedua metode ini juga memiliki kekurangan. Kekrangan-kekurangan metode alur panjang antara lain:
a. kesimpulan penelitian tidak dapat segera diketahui karena waktu penelitian yang panjang.
b. Besarnya resiko kehilangan subyek karena subyek pidah atau meninggal atau mungkin tidak mau lagi menjadi subjek penelitian.
c. Kemungkinan adanya hal-hal yang mempengaruhi subjek yang tidak terdeteksi oleh peneliti, sehingga hasil penelitian tidak murni lagi.
Adapun kekurangan metode silang singkat adalah:
a. karena subjek yang digunakan dalam penelitian tidak sama kemungkinan besar adanya variabel lain yang dibawa oleh subjek berikutnya.
b. Dalam waktu yang singkat akan sukar menemukan subjek yang diinginkan.
  1. Penelitian tindak lanjut (Follow-up study)
Studi tindak lanjut dilakukan oleh peneliti untuk menentukan status responden setelah beberapa periode waktu tertentu memproleh perlakuan, misalnya program pendidikan. Studi tidak lanjut ini di lakukan untuk melakukan evaluasi internal maupun evaluasi eksternal, setelah subjek atau responden menerima program di suatu lembaga pendidikan. Sebagai contoh Badan Akreditasi Nasional menganjurkan adanya informasi tingkat serapan alumni dalam memasuki dunia kerja, setelah mereka selesai program pendidikannya.
Dalam penelitian studi tindak lanjut biasanya peneliti mengenal istilah antara output dan outcome. Out (keluran) berkaitan dengan informasi hasil akhir setelah suatu program yang diberikan kepada subjek sasaran di selesaikan. Sedangkan yang dimaksud dengan data yang di ambil dari outcome (hasil) biasanya menyangkut pengaruh suatu perlakuan, misalnya program pendidikan kepada subjek yang di teliti setelah mereka kembali ke- tempat asal yaitu masyarakat.
  1. Penelitian Analisis Dokumen (dokumentary analysis)
Penelitian inimerupaka penelitian yang yang dilakukan pada data yang berbentuk dokumen, rekaman, baik dalam gambar, rekaman suara, tulisan atau lain-lain bentuk rekaman. Dengan analisis ini peneliti bekerja secara obyektif dan sistematis untuk mendeskrifsikan isi bahan komunikasi melalui pendekatan kuantitatif.
  1. penelitian korelasional ( corelational studies )
penelitian korelasional merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dua atau beberapavariabel (Arikunto,2009:247). Denga tehnik penelitian ini seoarang peneliti dapat menetahui keterkaitan variasi dalam sebuah variabeldenag variasi yang lain. Besar atau tingginya hubungan itu dinyatakan dalam bentuk koefisien korelasi di dalam penelitian deskriftif koefisisen korelasi menjelaskan sejauh mana variabel-variaber yang ada tersebut berhubungan. Sementara dalam penelitian generalisasi hipotesis koefisien korelasi menunjukkan tingkat signifikasi terbuktinya atau tidaknya hipotesis.
Salah satru cirri dari penelitian korelasi adalah bahwa penelitian tersebut tidak menuntut subyek penelitian yang terlalu banyak, 50 sampai 100 subyek penelitian sudah dapat dianggap cukup ( Ary, dalam Arikunto,2009:148). Disamping itu perlu diketahui bahwa korelasi tidak selalu menunjuk pada hubungan sebab-akibat.dan koefisien korelaswi tidak dapat diinterfretasikansecara absolute. Dengan demikian seorang peneliti yang menggunakan tekhnik ini tidak bolehmengambil kesimpulan bahwa korelasi yang berlaku pada sample tertentu tidak mesti berlaku pada sample yang lain. Banyak sekali factor yang mempengaruhi besarnya koefisien korelasi. Sampling error misalnya, merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi besar kecilnya koefisien korelasi. oleh karena itu, dalam mengambil sampel peneliti sebaiknya menggunakan tehnik acak agar kesalahan sampling dapat diperkecil.
  1. LANGKAH-LANGKAH DALAM MELAKSANAKAN PENELITIAN DESKRIPTIF
Penelitian dengan metode deskriptif mempunyai langkah penting seperti berikut.
1. Mengidentifikasi adanya permasalahan yang signifikan untuk dipecahkan melalui metode deskriptif.
2. Membatasi dan merumuskan permasalahan secara jelas.
3. Menentukan tujuan dan manfaat penelitian.
4. Melakukan studi pustaka yang berkaitan dengan permasalahan.
5. Menentukan kerangka berpikir, dan pertanyaan penelitian dan atau hipotesis penelitian.
6. Mendesain metode penelitian yang hendak digunakan termasuk dalam hal ini menentukan populasi, sampel, teknik sampling, menentukan instrumen, mengumpulkan data, dan menganalisis data.
7. Mengumpulkan, mengorganisasikan, dan menganalisis data dengan menggunakan teknik statistika yang relevan.
8. Membuat laporan penelitiaN.
  1. PENUTUP
Setelah mempelajari dan menganalisa dengan mendalam bagaimana dan seperti apa penelitian deskriptif itu sesunggungya. Kita akan menyadari bahwa suatu teori,metode ataupun pendekatan yang ada tidak ada yang menduduki pringkat lebih tingi dari yang lainnya. Semua metode ataupun pendekatan peneliti yang ada pada dasarnya diciptakan untuk menjawab permasalahan-permasalahn yang ada, tinggal nantinya para peneliti akan menggunaklan metode ataupun pendekatan yang mana, tentu saja berdasarkan masalah yang ingin diteliti. Masing-masing sudah memiliki lahan garapan masing-masing, lahan penelitian deskriftif tidak mungkin akan digarap oleh penelitian eksperimentatif, begitu seterusnya.
DAFTAR PUTAKA.
Schumcher, S.2001.Research in Education A conceptual Introduction.Logman.New york
& London
Fraenkel, J.R, Wellen, N.E.2007.How to Design and Evaluate Research in Education.Mc
Grsw Hil.London.
http://www.google.co.id/penelitian+deskriftif diunduh tanggal 1 Septemebr 2009 pukul
20.00 WIB
Arikunto,S.2009. Menejemen Penelitian.Rineka Cipta.Jakarta.
Aminudin.
PENELITIAN DESKRIPTIF
MAKALAH DALAM RANGKA MENYELESAIKAN TUGAS
METODE PENELITIAN
DOSEN : RROF. DR. ISKANDAR WASID, M.PD.



Disusun Oleh :
BOHRI RAHMAN
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2009

Kamis, 10 Juli 2014

Senin, 19 Mei 2014

KALIMAT EFEKTIF PADA KARANGAN YANG EFEKTIF


KALIMAT EFEKTIF PADA KARANGAN YANG EFEKTIF
Oleh Bohri Rahman
PENDAHULUAN
Kita menulis untuk menyampaikan pikiran atau perasaan kita. Akan tetapi, terkadang apa yang ingin kita sampaikan kepada pembaca tidak sampai dengan sempurna. Akibatnya, pembaca menjadi salah pengertian dan tidak memahami apa yang ingin kita sampaikan dengan tulisan kita. Mungkin, kalimat yang kita gunakan belum efektif sehingga informasi atau pikiran yang kita sampaikan tidak efektif dan tidak dapat dipahami oleh pembaca.
Setelah tiga kali berturut-turut saya meminta mahasiswa untuk menulis, nampaknya kasus seperti yang saya sampaikan di atas masih terjadi. Masih banyak kalimat yang mereka gunakan belum efektif. Hal ini mungkin karena kurangnya pengetahuan mereka tentang bagaimana seharusnya kalimat yang mereka gunakan dalam menulis ide atau pikran mereka, agar ide tersebut sampai kepada pembaca dengan sempurna. Namun demikian, saya berbangga, bahwa mereka telah memulai menulis dan berlatih menggunakan bahasa tulis untuk menyampaikan gagasan mereka. Saya berkesimpulan, bahwa dengan terus melatih mereka menulis, mereka akan menjadi penulis yang handal.
Hal ini, mengilhami saya untuk memberikan mereka petunjuk tentang kalimat yang efektif pada karangan dan melatih mereka untuk mencoba dan mencoba lagi membuat kalimat yang efektif. Meskipun, nampak kebosanan pada raut wajah mereka. Saya sadar, kemahiran menggunakan kalimat efektif tidak datang dengan sendirinya, tetapi diperoleh dengan latihan yang terus menerus dan kemauan yang kuat.

KALIMAT EFEKTIF
Kalimat, akan dikatakan efektif apabila kalimat tersebut mampu membuat penyampaian dan penerimaan informasi berlangsung sempurna. Artinya, penerima (pembaca) sempurna menerima informasi yang disampaikan penulis melalui kalimat yang diciptakannya. Disamping itu, kalimat juga harus memiliki struktur yang benar atau satu kesatuan bentuk, sebab kesatuan bentuk menjadikan kesatuan arti. Jadi, kalimat efektif selalu memiliki struktur yang jelas. Setiap unsur yang terdapat di dalamnya harus menempati posisi dalam hubungan satu sama lain.

Struktur Kalimat yang Efektif
Menurut Razak (1985:8) dalam satu karya tulis, struktur kalimat hanya ada tiga macam, yaitu (1) kalimat sederhana, (2) kalimat luas, dan (3) kalimat gabung. Perhatikanlah kutipan berikut:
Aku sebenarnya seorang artis. Sukses yang kuperoleh di bidang lain, tidak lain karena nasib baik. Aku bekerja sebagai penulis interviu dan artikel dibidang film dan tokoh-tokoh Hollywood yang dimuat di luar negeri dalam majalah perdagangan dan film Inggris. Pekerjaan itu tidak kusukai, tapi aku memperoleh penghasilan yang besar darinya. Sungguh, sukses yang kuperoleh lebih daripada cukup, kesenangan dan keselamatan terjamin. Tapi rasa jemu mengamuk jua dalam jiwaku. Aku tidak puas dan keadaanku jauh dari bahagia. Sering kuinginkan untuk menjadi seorang penyelidik, dan tentunya menjelajah tempat-tempat yang jauh. Aku ingin melukis, lain tidak, tapi banyak hal-hal yang menghambat. Aku berpendapat, bahwa orang-orang yang aku kenal mempunyai pandangan yang dangkal. Tujuan dan ambisi mereka berbeda jauh dengan getaran jiwaku. (Razak, 1985:9).
Baru saja membaca karangan ini, kita menemukan dua buah kalimat sederhana:
(1)   Aku sebetulnya seorang artis
(2)   Sukses yang ku peroleh di tempat lain, tidak lain karena nasib baik
Setelah itu menyusul sebuah kalimat gabung:
Aku bekerja sebagai penulis interviu dan artikel di bidang film dan tokoh-tokoh Hollywood yang dimuat di luar negeri dalam majalah perdagangan dan film Inggris.
Kemudian penulis menampilkan dua buah kalimat luas:
(1)   Pekerjaan itu tidak kusukai, tapi aku memperoleh penghasilan yang besar darinya.
(2)   Sungguh, sukses yang kuperoleh lebih daripada cukup, kesenangan dan keselamatan terjamin.
Menyusul lagi sebuah kalimat sederhana:
            Tapi rasa jemu mengamuk jua dalam jiwaku
Selanjutnya sebuah kalimat luas lagi:
Aku tidak puas dan keadaanku jauh dari bahagia.
Kemudian sebuah kalimat gabung:
Sering kuinginkan untuk menjadi seorang penyelidik, dan tentunya menjelajah tempat-tempat yang jauh.
Menyusul lagi dua buah kalimat luas:
(1)   Aku ingin melukis, lain tidak, tapi banyak hal-hal yang menghambat.
(2)   Aku berpendapat, bahwa orang-orang yang aku kenal mempunyai pandangan yang dangkal.
Dan akhirnya paragraf ini ditutup dengan sebiah kalimat gabung:
Tujuan dan ambisi mereka berbeda jauh dengan getaran jiwaku.
Jika kita memperhatikan struktur kalimat di atas, kita akan bersimpulan bahwa kalimat demi kalimat yang tersusun menjadi satu paragraf itu tersusun dengan sangat efektif. Kalimat-kalimat tersebut menghadirkan cita rasa dan daya tarik yang kuat, sehingga pembaca akan mudah menemukan maksud yang disampaikan penulis.
Selanjutnya, mari kita bandingkan paragraf di atas dengan paragraf berikut.
Pada saat masa-masa di sekolah sudah banyak sekali kenang-kenangan yang kita lalu bersama teman-teman di sekolah. Seperti sewaktu lagi susah, senang, canda tawa, dan lain-lain. Kepengen sekali rasa saya kembali seperti dulu semua itu hanya hayalan yang tak mungkin bisa terjadi. Sungguh, bahagia sekali rasanya ketika lagi ngumpul saling berbagi cerita, begitu pula sewaktu lagi mendapatkan masalah. Seberat apapun masalah itu rasanya ringan karena setaip kita mempunyai masalah selalu kita pikul bersama.

Setelah membandingkan kedua paragraf tersebut anda boleh berkomentar apa saja, yang jelas, kalimat demi kalimat sang disajikan penulis belum efektif. Lihat saja kalimat pertam pada paragraf tersebut “Pada saat masa-masa di sekolah sudah banyak sekali kenang-kenangan yang kita lalu bersama teman-teman di sekolah” kalimat ini terasa berbelit-belit, padahal penulis ingin menceritakan kenangannya di sekolahnya dulu. Alagkah baiknya jika kalimat diatas kita ganti dengan “saya memiliki banyak kenangan bersama teman-teman di sekolah” atau “ saya dan teman-teman memiliki banyak kenangan di sekolah”. Namun, maklum, penulisnya baru latihan tiga kali. Saya yakin, empat tahun kelak penulis kalimat tersebut akan menjadi penulis yang handal, jika dia mau memperbaiki tulisannya dengan terus menerus berlatih dan banyak membaca.
Ø  Kalimat Sederhana
Kalimat sederhana merupakan paparan yang paling elementer. kalimat sederhana hanya memberikan satu informasi. Perhatikan kalimat berikut:
Mata saya mengantuk.
Malam sudah larut.
Orang tidur semua.
Kalimat-kalimat di atas merupakan kalimat sederhana, karena hanya menyampaikan satu informasi. Badingkan dengan kalimat berikut :
Gadis kecil penjaja kue itu, yang kemarin dikabarkan hilang, telah ditemukan tadi pagi oleh seorang polisi.
Kalimat tersebut tentu bukan kalimat sederhana karena memberikan beberapa informasi pada satu kalimat.

Ø  Kalimat Luas
Kita mengetahui bahwa kalimat sederhana hanya memberikan satu informasi. Kita juga telah mengetahui bahwa kalimat yang memberikan dua atau lebih informasi pada satu kalimat merupakan kalimat luas. Perhatikan kalimat berikut:
(1)   Orang tua itu kedinginan.
(2)   Badannya menggigil.
Kalimat di atas merupakan dua buah kalimat sederhana yang masing-masing membawa satu informasi. Lain halnya dengan kalimat berikut:
Orang tua itu kedinginan, badannya menggigil.
Kalimat tersebut merupakan kalimat luas, karena memberikan dua informasi dalam satu kalimat. Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa kalimat luas merupakan gabungan dari beberapa kalimat sederhana, yang pertaliannya sangat erat.

Pola Dasar Kalimat Luas
Pola dasar kalimat luas terdiri atas ruas-ruas dan masing-masing ruas menyerupai sebuah kalimat sederhana. Sebuah kalimat luas mungkin saja terdiri atas dua ruas, tiga ruas, empat ruas, dan seterusnnya. Jumlah ruas itu tergantung pada banyaknya informasi yang terdapat didalamnya.

Unsur Penghubung dalam Kalimat Luas
Dalam kalimat luas biasanya terdapat unsur penghubung, karena kalimat luas terbentuk melalui proses penghubungan konstruksi-konstruksi yang berisi satu informasi. Dalam hubungan ini, setidaknya ada tiga ragam penghubungan kalimat luas, yaitu (1) kalimat luas yang dihubungkan oleh situasi, (2) kalimat lus yang dihubungkan secar elips, dan (3) kalimat luas yang dihubungkan dengan oleh kata atau kelompok kata tertentu yang khusus bertugas sebagai kata penghubung.
1)      Hubungan situasi
Perhatikan kalimat luasberikut:
Waktu itu ayah sedang membaca surat kabar, ibu menjahit, saya menyalin pelajaran, adik asik bermain dengan gelondongannya. Tiba-tiba adik menangis, ternyata mainannya dilarikan kucing. Melihat kejadian itu kami semuanya tertawa, lantas ibu menggendong adik.
Kalimat di atas terdiri atas tiga buah kalimat luas. Masing-masing ruas dihubungkan oleh situasi yang tengah berlangsung pada waktu itu. Misalnya kalimat Waktu itu ayah sedang membaca surat kabar, ibu menjahit, saya menyalin pelajaran, adik asik bermain dengan gelondongannya.Kalimat ini berisi empat informasi, yaitu:
(1)   Waktu itu ayah sedang membaca surat kabar
(2)   ibu menjahit
(3)   saya menyalin pelajaran
(4)   adik asik bermain dengan gelondongannya
jadi, yang dimaksud dengan hubungan situasi adalah suatu keadaan di mana tidak terdapat unsur formal yang menghubungkan beberapa buah kalimatsederhana menjadi kalimat luas.
2)      Hubungan Elips
Perhatikan contoh kalimat berikut:
(1)   Ia mengarang untuk satu tujuan
(2)   Tujuannya membela orang-orang lemah
(dihubungkan) Ia mengarang untuk satu tujuan, membela nasib orang-orang lemah.
Unsur yang seakan-akan lenyap pada kalimat di atas adalah unsur subjek. Ini terlihat pada ruas kedua kalimat luas itu.
3)      Hubungan dengan Kata Penghubung
Perhatikan kalimat beikut:
Ada semacam kecemasan di kalangan generasi muda bahwa pembabatan hutan secara semena-mena akan berakibat langsung pada masa depan mereka.
Kalimat di atas dihubungkan oleh kata penghubung formal, yaitu kata bahwa yang memang bertugas menghubungkan dua buah kalimat sederhana menjadi kalimat luas.
Ruas Utama dan Ruas Bawahan
Kalimat-kalimat luas di atas, merupakan kalimat luas yang pola ruas kalimat sederhana yang menjadi akarnya sejajar. Selain kalimat seperti yang disajikan, terdapat kalimat luas yang tiap ruasnya tidak berpola sama. Perhatikan kalimat berikut:
Lantaran lukanya parah, ia terpaksa dirawat di rumah sakit.
Bagian kalimat yang tercetak tebal tidak sepola dengan bagian kalimat yang tercetak biasa (tidak tercetak tebal). Oleh karena itu, bagian kalimat yang tercetak tebal disebut ruas utama, sementara bagian kalimat yang tercetak biasa disebut ruas bawahan. Kalimat tersebut dikatakan ruas utama, karena kalimat tersebut mengandung pokok pikiran atau maksud yang ingin disampaikan oleh penulis. Selain  itu, kalimat tersebut mampu berdiri sendirisebagai sebuah kalimat sederhana, karena ia merupakan satu kesatuan struktur yang utuh.
Kalimat Lantaran lukanya parah disebut ruas bawahan. Ruas bawahan berfungsi membantu dan menerangkan agar kalimat luas itu secara keseluruhan merupakan pernyataan yang dapat memberikan kesan yang mantap kepada pembaca. Oleh karena hanya membantu ruas utama, ruas bawahan tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat, ruas bawahan sangat tergantung pada ruas utama yang diterangkannya.

Ø  Kalimat Gabung
Perhatikan kalimat berikut: Rumah itu besar, rumah itu bagus, rumah itu megah. Jika kita memerhatikan kalimat di atas, kalimat itu memiliki unsur subjek yang sama. Yaitu, rumah itu. Oleh karena itu, alangkah efektifnya jika subjek kalimat tersebut digabung, sehingga kalimat tersebut akan menjadi rumah itu besar, bagus, dan megah. Kalimat yang digabungkan seperti ini disebut kalimat gabung.

Kalimat Gabug vs Kalimat Sederhana
Peratikan kalimat berikut: Tujuan dan ambisi mereka/ berbeda jauh dengan getaran jiwaku. Sepintas lalu, kalimat ini nampak seperti kalimat sederhana. Padahal, jika kita perhatikan kalimat ini merupakan kalimat gabung. Kalimat tersebut mengandung lebih dari satu informasi. Padahal, kita telah sepakat bahwa kalimat sederhana merupakan kalimat yang mengandung satu informasi.

Kalimat Gabung versus Kalimat Luas
Dari segi “isi kalimat”, sebuah kalimat gabung dapat digolongkan ke dalam kalimat luas. Sebab informasinya lebih dari satu. Tetapi akan lain halnya bila dilihat dari segi struktur. Kalimat luas terdiri atas ruas-ruas yang berisi satu unsur subjek dan satu unsur predikat, sementara tidak demikian dengan kalimat gabung. Bagaimanakah caranya kita akan mengatakan kalimat Tujuan dan ambisi mereka/ berbeda jauh dengan getaran jiwaku terdiri dari ruas-ruas semacam itu. Kalimat gabung memiliki konstruksi tersendiri yang terbentuk melalui proses tersendiri pula. 

SYARAT-SYARAT KALIMAT EFEKTIF
Kalimat efektif setidaknya memiliki enam syarat ( Finoza, 2010:172), yaitu (1) kesatuan, (2) Kepaduan, (3) keparalelan, (4) ketepatan, (5) kehematan, (6) kelogisan.
1.      Kesatuan
Kesatuan kalimat adalah kesatua ide yang terdapat pada kalimat tersebut, atau dengan kata lain pad kalimat tersebut hanya terdapat satu ide pokok yang menjadi pokok pembahasan kalimat.
Perhatikan kalimat berikut.
Pembangunan gedung kampus baru pihak yayasan dibantu oleh bank yang memberikan kredit.
            Kalimat di atas, memiliki subjek ganda, yaitu pihak yayasan yang membangun gedung baru dan Bank yang memberikan bantuan berupa kredit. Dengan demikian, kalimat tersebut tidak mencerminkan kesatuan ide kalimat. Apakah kalimat tersebut menceritakan yayasan yang membangun gedung baru ataukah bank yang memberikan bantuan berupa kredit. Ketidak jelasan ide pada kalimat tersebut menjadikan kalimat tersebut tidak efektif. Alangkah baiknya jika kalimat tersebut kita perbaiki menjadi kalimat berikut.
Pihak yayasan dibantu oleh bank yang memberikan kredit untuk membangun gedung kampus baru. Atau Bank memberikan kredit kepada pihak yayasan untuk membangun gedung kampus baru.
2.      Kepaduan (koherensi)
Koherensi adalah terjadinya hubungan yang padu antara unsur-unsur pembentuk kalimat. Unsur pembentuk kalimat adalah kata, frasa, klausa, tanda baca (fungtuasi), dan fungsi sintaksis (S-P-O-Pel-Ket).
Perhatikan kalimat berikut.
Kepada setiap pengemudi mobil harus memiliki surat izin mengemudi


SIMPULAN
Menulis bertujuan untuk menyampaikan informasi kepada pembaca melalui wadah tulisan. Tulisan yang baik tentu akan mengantarkan informasi dengan lebih baik dari tulisan yang kurang baik. Namun demikian, menulis sebagai sebuah keterampilan berbahasa tidak datang dengan sendirinya. Menulis perlu dibiasakan dengan banyak berlatih dan terus belajar menggunakan kata dan kalimat agar penggunaannya efektif. Hal semacam itulah yang ingin saya katakan melalui tulisan sederhana ini.
Kata-kata bisa menyampaikan informasi dengan jelas apabila kata-kata tersebut telah terangkai menjadi kalimat. Maka kalimat menjadi sedemikian penting diperhatikan agar maksud yang ingin disampaikan tersebut sampai dengan baik. Kalimat yang digunakan pada tiap tulisan pada dasarnya terdiri dari kalimat sederhana, kalimat luas, dan kalimat gabung. Kalimat-kalimat ini memiliki struktur-struktur tersediri dari proses yang tersendiri pula. Akhirnya, saya mengucapkan selamat berlatih, semoga kelak bermanfaaat untuk kita semua. Amin.


Daftar Pustaka
Arifin, E. Zaenal.2000. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta : Akademika Presindo.

Efendi, S.1998. Panduan Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar. Jakarta: Pustaka Jaya.

Finoza, Lamudin.2010. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi.

Hernowo.2001. Mengikat Makna. Bandung: Kaifa.

Razak, abdul.1985.Kalimat Efektif Struktur, Gaya, dan Variasi. Jakarta: Gramedia

Sapioedin, Aziz.1987.Membina Bahasa Indonesia. Bandung: Alumni.

Suryaman, Ukun.1998. Dasar-Dasar Bahasa Indonesia Baku. Bandung: Alumni.

Wibowo, Wahyu.2001. Otonomi Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Yulianeta dan Sri Wiyanti.2009. Bahasa dan Sastra Indonesia di Tengah Arus Global. Bandung: Jurdiksastrasia FPBS-UPI.