Senin, 19 Mei 2014

KALIMAT EFEKTIF PADA KARANGAN YANG EFEKTIF


KALIMAT EFEKTIF PADA KARANGAN YANG EFEKTIF
Oleh Bohri Rahman
PENDAHULUAN
Kita menulis untuk menyampaikan pikiran atau perasaan kita. Akan tetapi, terkadang apa yang ingin kita sampaikan kepada pembaca tidak sampai dengan sempurna. Akibatnya, pembaca menjadi salah pengertian dan tidak memahami apa yang ingin kita sampaikan dengan tulisan kita. Mungkin, kalimat yang kita gunakan belum efektif sehingga informasi atau pikiran yang kita sampaikan tidak efektif dan tidak dapat dipahami oleh pembaca.
Setelah tiga kali berturut-turut saya meminta mahasiswa untuk menulis, nampaknya kasus seperti yang saya sampaikan di atas masih terjadi. Masih banyak kalimat yang mereka gunakan belum efektif. Hal ini mungkin karena kurangnya pengetahuan mereka tentang bagaimana seharusnya kalimat yang mereka gunakan dalam menulis ide atau pikran mereka, agar ide tersebut sampai kepada pembaca dengan sempurna. Namun demikian, saya berbangga, bahwa mereka telah memulai menulis dan berlatih menggunakan bahasa tulis untuk menyampaikan gagasan mereka. Saya berkesimpulan, bahwa dengan terus melatih mereka menulis, mereka akan menjadi penulis yang handal.
Hal ini, mengilhami saya untuk memberikan mereka petunjuk tentang kalimat yang efektif pada karangan dan melatih mereka untuk mencoba dan mencoba lagi membuat kalimat yang efektif. Meskipun, nampak kebosanan pada raut wajah mereka. Saya sadar, kemahiran menggunakan kalimat efektif tidak datang dengan sendirinya, tetapi diperoleh dengan latihan yang terus menerus dan kemauan yang kuat.

KALIMAT EFEKTIF
Kalimat, akan dikatakan efektif apabila kalimat tersebut mampu membuat penyampaian dan penerimaan informasi berlangsung sempurna. Artinya, penerima (pembaca) sempurna menerima informasi yang disampaikan penulis melalui kalimat yang diciptakannya. Disamping itu, kalimat juga harus memiliki struktur yang benar atau satu kesatuan bentuk, sebab kesatuan bentuk menjadikan kesatuan arti. Jadi, kalimat efektif selalu memiliki struktur yang jelas. Setiap unsur yang terdapat di dalamnya harus menempati posisi dalam hubungan satu sama lain.

Struktur Kalimat yang Efektif
Menurut Razak (1985:8) dalam satu karya tulis, struktur kalimat hanya ada tiga macam, yaitu (1) kalimat sederhana, (2) kalimat luas, dan (3) kalimat gabung. Perhatikanlah kutipan berikut:
Aku sebenarnya seorang artis. Sukses yang kuperoleh di bidang lain, tidak lain karena nasib baik. Aku bekerja sebagai penulis interviu dan artikel dibidang film dan tokoh-tokoh Hollywood yang dimuat di luar negeri dalam majalah perdagangan dan film Inggris. Pekerjaan itu tidak kusukai, tapi aku memperoleh penghasilan yang besar darinya. Sungguh, sukses yang kuperoleh lebih daripada cukup, kesenangan dan keselamatan terjamin. Tapi rasa jemu mengamuk jua dalam jiwaku. Aku tidak puas dan keadaanku jauh dari bahagia. Sering kuinginkan untuk menjadi seorang penyelidik, dan tentunya menjelajah tempat-tempat yang jauh. Aku ingin melukis, lain tidak, tapi banyak hal-hal yang menghambat. Aku berpendapat, bahwa orang-orang yang aku kenal mempunyai pandangan yang dangkal. Tujuan dan ambisi mereka berbeda jauh dengan getaran jiwaku. (Razak, 1985:9).
Baru saja membaca karangan ini, kita menemukan dua buah kalimat sederhana:
(1)   Aku sebetulnya seorang artis
(2)   Sukses yang ku peroleh di tempat lain, tidak lain karena nasib baik
Setelah itu menyusul sebuah kalimat gabung:
Aku bekerja sebagai penulis interviu dan artikel di bidang film dan tokoh-tokoh Hollywood yang dimuat di luar negeri dalam majalah perdagangan dan film Inggris.
Kemudian penulis menampilkan dua buah kalimat luas:
(1)   Pekerjaan itu tidak kusukai, tapi aku memperoleh penghasilan yang besar darinya.
(2)   Sungguh, sukses yang kuperoleh lebih daripada cukup, kesenangan dan keselamatan terjamin.
Menyusul lagi sebuah kalimat sederhana:
            Tapi rasa jemu mengamuk jua dalam jiwaku
Selanjutnya sebuah kalimat luas lagi:
Aku tidak puas dan keadaanku jauh dari bahagia.
Kemudian sebuah kalimat gabung:
Sering kuinginkan untuk menjadi seorang penyelidik, dan tentunya menjelajah tempat-tempat yang jauh.
Menyusul lagi dua buah kalimat luas:
(1)   Aku ingin melukis, lain tidak, tapi banyak hal-hal yang menghambat.
(2)   Aku berpendapat, bahwa orang-orang yang aku kenal mempunyai pandangan yang dangkal.
Dan akhirnya paragraf ini ditutup dengan sebiah kalimat gabung:
Tujuan dan ambisi mereka berbeda jauh dengan getaran jiwaku.
Jika kita memperhatikan struktur kalimat di atas, kita akan bersimpulan bahwa kalimat demi kalimat yang tersusun menjadi satu paragraf itu tersusun dengan sangat efektif. Kalimat-kalimat tersebut menghadirkan cita rasa dan daya tarik yang kuat, sehingga pembaca akan mudah menemukan maksud yang disampaikan penulis.
Selanjutnya, mari kita bandingkan paragraf di atas dengan paragraf berikut.
Pada saat masa-masa di sekolah sudah banyak sekali kenang-kenangan yang kita lalu bersama teman-teman di sekolah. Seperti sewaktu lagi susah, senang, canda tawa, dan lain-lain. Kepengen sekali rasa saya kembali seperti dulu semua itu hanya hayalan yang tak mungkin bisa terjadi. Sungguh, bahagia sekali rasanya ketika lagi ngumpul saling berbagi cerita, begitu pula sewaktu lagi mendapatkan masalah. Seberat apapun masalah itu rasanya ringan karena setaip kita mempunyai masalah selalu kita pikul bersama.

Setelah membandingkan kedua paragraf tersebut anda boleh berkomentar apa saja, yang jelas, kalimat demi kalimat sang disajikan penulis belum efektif. Lihat saja kalimat pertam pada paragraf tersebut “Pada saat masa-masa di sekolah sudah banyak sekali kenang-kenangan yang kita lalu bersama teman-teman di sekolah” kalimat ini terasa berbelit-belit, padahal penulis ingin menceritakan kenangannya di sekolahnya dulu. Alagkah baiknya jika kalimat diatas kita ganti dengan “saya memiliki banyak kenangan bersama teman-teman di sekolah” atau “ saya dan teman-teman memiliki banyak kenangan di sekolah”. Namun, maklum, penulisnya baru latihan tiga kali. Saya yakin, empat tahun kelak penulis kalimat tersebut akan menjadi penulis yang handal, jika dia mau memperbaiki tulisannya dengan terus menerus berlatih dan banyak membaca.
Ø  Kalimat Sederhana
Kalimat sederhana merupakan paparan yang paling elementer. kalimat sederhana hanya memberikan satu informasi. Perhatikan kalimat berikut:
Mata saya mengantuk.
Malam sudah larut.
Orang tidur semua.
Kalimat-kalimat di atas merupakan kalimat sederhana, karena hanya menyampaikan satu informasi. Badingkan dengan kalimat berikut :
Gadis kecil penjaja kue itu, yang kemarin dikabarkan hilang, telah ditemukan tadi pagi oleh seorang polisi.
Kalimat tersebut tentu bukan kalimat sederhana karena memberikan beberapa informasi pada satu kalimat.

Ø  Kalimat Luas
Kita mengetahui bahwa kalimat sederhana hanya memberikan satu informasi. Kita juga telah mengetahui bahwa kalimat yang memberikan dua atau lebih informasi pada satu kalimat merupakan kalimat luas. Perhatikan kalimat berikut:
(1)   Orang tua itu kedinginan.
(2)   Badannya menggigil.
Kalimat di atas merupakan dua buah kalimat sederhana yang masing-masing membawa satu informasi. Lain halnya dengan kalimat berikut:
Orang tua itu kedinginan, badannya menggigil.
Kalimat tersebut merupakan kalimat luas, karena memberikan dua informasi dalam satu kalimat. Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa kalimat luas merupakan gabungan dari beberapa kalimat sederhana, yang pertaliannya sangat erat.

Pola Dasar Kalimat Luas
Pola dasar kalimat luas terdiri atas ruas-ruas dan masing-masing ruas menyerupai sebuah kalimat sederhana. Sebuah kalimat luas mungkin saja terdiri atas dua ruas, tiga ruas, empat ruas, dan seterusnnya. Jumlah ruas itu tergantung pada banyaknya informasi yang terdapat didalamnya.

Unsur Penghubung dalam Kalimat Luas
Dalam kalimat luas biasanya terdapat unsur penghubung, karena kalimat luas terbentuk melalui proses penghubungan konstruksi-konstruksi yang berisi satu informasi. Dalam hubungan ini, setidaknya ada tiga ragam penghubungan kalimat luas, yaitu (1) kalimat luas yang dihubungkan oleh situasi, (2) kalimat lus yang dihubungkan secar elips, dan (3) kalimat luas yang dihubungkan dengan oleh kata atau kelompok kata tertentu yang khusus bertugas sebagai kata penghubung.
1)      Hubungan situasi
Perhatikan kalimat luasberikut:
Waktu itu ayah sedang membaca surat kabar, ibu menjahit, saya menyalin pelajaran, adik asik bermain dengan gelondongannya. Tiba-tiba adik menangis, ternyata mainannya dilarikan kucing. Melihat kejadian itu kami semuanya tertawa, lantas ibu menggendong adik.
Kalimat di atas terdiri atas tiga buah kalimat luas. Masing-masing ruas dihubungkan oleh situasi yang tengah berlangsung pada waktu itu. Misalnya kalimat Waktu itu ayah sedang membaca surat kabar, ibu menjahit, saya menyalin pelajaran, adik asik bermain dengan gelondongannya.Kalimat ini berisi empat informasi, yaitu:
(1)   Waktu itu ayah sedang membaca surat kabar
(2)   ibu menjahit
(3)   saya menyalin pelajaran
(4)   adik asik bermain dengan gelondongannya
jadi, yang dimaksud dengan hubungan situasi adalah suatu keadaan di mana tidak terdapat unsur formal yang menghubungkan beberapa buah kalimatsederhana menjadi kalimat luas.
2)      Hubungan Elips
Perhatikan contoh kalimat berikut:
(1)   Ia mengarang untuk satu tujuan
(2)   Tujuannya membela orang-orang lemah
(dihubungkan) Ia mengarang untuk satu tujuan, membela nasib orang-orang lemah.
Unsur yang seakan-akan lenyap pada kalimat di atas adalah unsur subjek. Ini terlihat pada ruas kedua kalimat luas itu.
3)      Hubungan dengan Kata Penghubung
Perhatikan kalimat beikut:
Ada semacam kecemasan di kalangan generasi muda bahwa pembabatan hutan secara semena-mena akan berakibat langsung pada masa depan mereka.
Kalimat di atas dihubungkan oleh kata penghubung formal, yaitu kata bahwa yang memang bertugas menghubungkan dua buah kalimat sederhana menjadi kalimat luas.
Ruas Utama dan Ruas Bawahan
Kalimat-kalimat luas di atas, merupakan kalimat luas yang pola ruas kalimat sederhana yang menjadi akarnya sejajar. Selain kalimat seperti yang disajikan, terdapat kalimat luas yang tiap ruasnya tidak berpola sama. Perhatikan kalimat berikut:
Lantaran lukanya parah, ia terpaksa dirawat di rumah sakit.
Bagian kalimat yang tercetak tebal tidak sepola dengan bagian kalimat yang tercetak biasa (tidak tercetak tebal). Oleh karena itu, bagian kalimat yang tercetak tebal disebut ruas utama, sementara bagian kalimat yang tercetak biasa disebut ruas bawahan. Kalimat tersebut dikatakan ruas utama, karena kalimat tersebut mengandung pokok pikiran atau maksud yang ingin disampaikan oleh penulis. Selain  itu, kalimat tersebut mampu berdiri sendirisebagai sebuah kalimat sederhana, karena ia merupakan satu kesatuan struktur yang utuh.
Kalimat Lantaran lukanya parah disebut ruas bawahan. Ruas bawahan berfungsi membantu dan menerangkan agar kalimat luas itu secara keseluruhan merupakan pernyataan yang dapat memberikan kesan yang mantap kepada pembaca. Oleh karena hanya membantu ruas utama, ruas bawahan tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat, ruas bawahan sangat tergantung pada ruas utama yang diterangkannya.

Ø  Kalimat Gabung
Perhatikan kalimat berikut: Rumah itu besar, rumah itu bagus, rumah itu megah. Jika kita memerhatikan kalimat di atas, kalimat itu memiliki unsur subjek yang sama. Yaitu, rumah itu. Oleh karena itu, alangkah efektifnya jika subjek kalimat tersebut digabung, sehingga kalimat tersebut akan menjadi rumah itu besar, bagus, dan megah. Kalimat yang digabungkan seperti ini disebut kalimat gabung.

Kalimat Gabug vs Kalimat Sederhana
Peratikan kalimat berikut: Tujuan dan ambisi mereka/ berbeda jauh dengan getaran jiwaku. Sepintas lalu, kalimat ini nampak seperti kalimat sederhana. Padahal, jika kita perhatikan kalimat ini merupakan kalimat gabung. Kalimat tersebut mengandung lebih dari satu informasi. Padahal, kita telah sepakat bahwa kalimat sederhana merupakan kalimat yang mengandung satu informasi.

Kalimat Gabung versus Kalimat Luas
Dari segi “isi kalimat”, sebuah kalimat gabung dapat digolongkan ke dalam kalimat luas. Sebab informasinya lebih dari satu. Tetapi akan lain halnya bila dilihat dari segi struktur. Kalimat luas terdiri atas ruas-ruas yang berisi satu unsur subjek dan satu unsur predikat, sementara tidak demikian dengan kalimat gabung. Bagaimanakah caranya kita akan mengatakan kalimat Tujuan dan ambisi mereka/ berbeda jauh dengan getaran jiwaku terdiri dari ruas-ruas semacam itu. Kalimat gabung memiliki konstruksi tersendiri yang terbentuk melalui proses tersendiri pula. 

SYARAT-SYARAT KALIMAT EFEKTIF
Kalimat efektif setidaknya memiliki enam syarat ( Finoza, 2010:172), yaitu (1) kesatuan, (2) Kepaduan, (3) keparalelan, (4) ketepatan, (5) kehematan, (6) kelogisan.
1.      Kesatuan
Kesatuan kalimat adalah kesatua ide yang terdapat pada kalimat tersebut, atau dengan kata lain pad kalimat tersebut hanya terdapat satu ide pokok yang menjadi pokok pembahasan kalimat.
Perhatikan kalimat berikut.
Pembangunan gedung kampus baru pihak yayasan dibantu oleh bank yang memberikan kredit.
            Kalimat di atas, memiliki subjek ganda, yaitu pihak yayasan yang membangun gedung baru dan Bank yang memberikan bantuan berupa kredit. Dengan demikian, kalimat tersebut tidak mencerminkan kesatuan ide kalimat. Apakah kalimat tersebut menceritakan yayasan yang membangun gedung baru ataukah bank yang memberikan bantuan berupa kredit. Ketidak jelasan ide pada kalimat tersebut menjadikan kalimat tersebut tidak efektif. Alangkah baiknya jika kalimat tersebut kita perbaiki menjadi kalimat berikut.
Pihak yayasan dibantu oleh bank yang memberikan kredit untuk membangun gedung kampus baru. Atau Bank memberikan kredit kepada pihak yayasan untuk membangun gedung kampus baru.
2.      Kepaduan (koherensi)
Koherensi adalah terjadinya hubungan yang padu antara unsur-unsur pembentuk kalimat. Unsur pembentuk kalimat adalah kata, frasa, klausa, tanda baca (fungtuasi), dan fungsi sintaksis (S-P-O-Pel-Ket).
Perhatikan kalimat berikut.
Kepada setiap pengemudi mobil harus memiliki surat izin mengemudi


SIMPULAN
Menulis bertujuan untuk menyampaikan informasi kepada pembaca melalui wadah tulisan. Tulisan yang baik tentu akan mengantarkan informasi dengan lebih baik dari tulisan yang kurang baik. Namun demikian, menulis sebagai sebuah keterampilan berbahasa tidak datang dengan sendirinya. Menulis perlu dibiasakan dengan banyak berlatih dan terus belajar menggunakan kata dan kalimat agar penggunaannya efektif. Hal semacam itulah yang ingin saya katakan melalui tulisan sederhana ini.
Kata-kata bisa menyampaikan informasi dengan jelas apabila kata-kata tersebut telah terangkai menjadi kalimat. Maka kalimat menjadi sedemikian penting diperhatikan agar maksud yang ingin disampaikan tersebut sampai dengan baik. Kalimat yang digunakan pada tiap tulisan pada dasarnya terdiri dari kalimat sederhana, kalimat luas, dan kalimat gabung. Kalimat-kalimat ini memiliki struktur-struktur tersediri dari proses yang tersendiri pula. Akhirnya, saya mengucapkan selamat berlatih, semoga kelak bermanfaaat untuk kita semua. Amin.


Daftar Pustaka
Arifin, E. Zaenal.2000. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta : Akademika Presindo.

Efendi, S.1998. Panduan Berbahasa Indonesia dengan Baik dan Benar. Jakarta: Pustaka Jaya.

Finoza, Lamudin.2010. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi.

Hernowo.2001. Mengikat Makna. Bandung: Kaifa.

Razak, abdul.1985.Kalimat Efektif Struktur, Gaya, dan Variasi. Jakarta: Gramedia

Sapioedin, Aziz.1987.Membina Bahasa Indonesia. Bandung: Alumni.

Suryaman, Ukun.1998. Dasar-Dasar Bahasa Indonesia Baku. Bandung: Alumni.

Wibowo, Wahyu.2001. Otonomi Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Yulianeta dan Sri Wiyanti.2009. Bahasa dan Sastra Indonesia di Tengah Arus Global. Bandung: Jurdiksastrasia FPBS-UPI.

GERHANA MATA HATI

GERHANA MATA HATI

Di sebuah perhitungan suara hasil pemilihan
“Bagaiman ini? Suara yang kita dapatkan sangat sedikit”
“Aku tidak mengerti, mana Parjo?”
Seorang laki-laki jangkung tergopoh gopoh “saya sudah mendistribusikan semuanya sesuai rencana Pak, Paket Sabun, Paket Supermi dan Paket 10 ribu sudah saya sebar sesuai rencana”
“Tapi kok… ah sudahlah... terus amati perkembangannya ya sambil tunggu perintah selanjutnya” ayo kita liat temapt lain.
Kedua laki-laki berpakaian rapi itu meninggalkan tempat perhitungan suara yang menurutnya kacau itu, sambil memasuki mobilnya dia tak henti-hentinya menggerutu, memaki, bahkan mungkin entahlah apa katanya.

Selang beberpa menit kemudian sedan hijau parkir. Seorang lelaki berperawakan tinggi keluar dari sedan. Dia berdiri sebentar, melihat lihat, kemudian menghampiri petugas yang sedang menghitung perolehan suara.
“Pak Ketua, saya melihat cara orang di desa lain begini caranya”
“Bagaimana caranya?”
“Jika suaranya untuk nomor 4, atau nomor 5, atau nomr 3, atau apa saja, sebut saja “NOMOR 6” dengan keras, saksi-saksi lain tidak akan memperhatikan kok. Begitu cara mereka main”
“Begitu ya?”
“Ya, usahakanlah. Agar kita mendapatkan suara maksimal di sini”
Lelaki yang merupakan petugas itu kelihatan manggur-manggut, entah pertanda mengerti dan akan melakukan ataukah pertanda tidak mengerti namun bermaksud menghibur lelaki lawan bicaranya.
Lelaki bersedan itu mengeluarkan amplop sedikit buncit, dan menyodorkannya kepada ketua penyelenggara perhitungan suara itu. Ketua penyelenggara penghitungan suara itu menoleh kiri kanan kemudian tersenyum.
“Tenang saja Pak, saya atur”
Lelaki bersedan itu keliatan puas. Dia mengendarai sedannya dengan sedikit senyum di bibirnya. “Kalian semua dapat saya beli” pikirnya.
Perhitungan suara masih terus berjalan. Hujan interupsi dan keberatan saksi memenuhi jalannya perhitungan. Ada beberapa saksi yang walkout dari tempat peritungan suara.
“Ambilkan pengeras suara!” Teriak ketua. “Ya ambilkan pengeras suara agar para hadirin dan para saksi mendengar dengan jelas”.
“Nomor 6”
“Nomor 6”
“Nomor 6”
Suara pengeras suara menggelegar memekakan telinga.
“Interupsi pak ketua. Tolong kertas susranya diangkat lebih tinggi agar kami bias menyaksikannya”
“Interupsi pak ketua, tolong kertas suaranya dibuka dulu baru menyebutkan nomornya”
“Interupsi pak ketua, kertas suara di balik dulu, kami tidak bisa melihar coblosannya”

Hujan interupsi dari saksi itu tidak dihiraukan oleh para petugas perhitungan suara. Mereka terus saja berteriak teriak, bahkan mungkin lebih tepatnya menjerit jerit meneriakkan nomor pesanan yang mereka telah dibayar. Ada atau tidak ada kertas suara di tangannya, mereka terus meneriakkan pesanan itu. Begitu juga petugas lain yang bertugas menuliskan suara yang diteriakkan itu di kertas besar model plano yang terpasang di dinding. Dia terus saja mencoret coret kertas itu. Entah sudah berapa puluh atau berapa ratus bahkan berapa ribu yang dia tulis…
“Interupsi pak ketua. Berhubung gelap kami butuh penerangan agar kami bisa melihat kertas suara”
“Sediakan Penerangan yang cukup” perintah ketua perhitungan suaran. Lampu penerang pun berukuran sedang dipasang.
Interupsi pak ketua, kami masih belum bias melihat, mungkin peneranganya terlalu kecil, mohon lampu yang agak besar.
Lampu penerangan berkapasitas ratusa watt dipasang ditempat perhitungan suara itu, namun interupsi masih terus saja berlangsung. Begitu juga terukan nomor 6 masih terus terdengar meski sekarang sudah mulai parau, sudah sayup-sayup pengeras suara itu menyebut nomor pesanan itu.
Suasana panik itu terhenti sejenak oleh azan. Allahu akbar allahuakbar……azan itu seakan hendak menyadarkan manusia manusia itu bahwa apa yang sedang mereka lakukan sekarang tidak sesuai dengan hati nurani mereka. Azan itu mengetuk hati nurani mereka agar mereka peka lagi, dan mengatakan yang enam adalah enam dan yang empat adalah empat. Bukan malan mengatakan yang 3,4 dan 5 atau apa saja menjadi Enam. Semua yang hadir di tempat itu tak satupun yang berkata kata, sumaunya tertunduk, menukil kedalam diri mereka sendiri, sedalam dalamnya memahami keberadaannya sendiri dan menarik napar lalu membuangnya.
“kita lanjutkan saudara-saudra” teriak Ketua Penghitungan itu.
“apa tidak sebaiknya kita skor dulu untuk solat”
“maaf, ini tugas Negara, silahkan yang mau solat, solat saja. Maslahnya ini adalah tugas Negara yang tidak bias saya anggap remeh. Kita harus melaksanakan tugas Negara dengan sebaik-baiknya para hadirin”
Semua yang hadir disitu manggut manggut, “benar juga kata pak ketua ini, kita sedang melaksanakan tugas Negara semacam pembelaan terhadap Negara, bukankah para pejuang kemerdekaan juga dulu begitu, meletakkan kewajiban terhadap kemerdekaan Negara di atas seglanaya. Lihat saja bagaimana Bung Karno dan Bung Hatta, mereka rela pecah-pecahan dengan sahabatnya Natsir untuk keperluan Negara”. Mereka manggut-manggut seperti setuju untuk terus melakukan rapat perhitungan suara itu.
“bagaimana saudara-saudra? Apakah ada yang mau solat dulu atau kita tetap lanjutkan perhitungan suara ini. Ingat saudara-saudara, ini adaah tugas Negara, kita tidak bias menganggap tugas ini remeh.”
“baiklah, kami bersedia untuk melanjutkan perhitungan suara.”
“mohon maaf pak ketua sebelum melakukan perhitungan suara ini, kami bermaksud untuk berdiskusi dulu dengan pak ketua dan anggota. Berhubungsekarang sudah waktunya makan malam. Nanti setelah kita makan malam, baru pak ketua dan anggota melanjutkan perhitungan suara.
“tunggu sebentar, kami perlu berdiskusi untuk menjawab tawaran saudara. Kasih kami waktu dua menit”
Setelah berdiskusi dengan anggotanya pak ketua mengumumkan bahwa rapat perhitungan suara akan dilanjutkan setelah makan malam.
“mohon maaf para saksi dan hadirin, rapat perhitungan suara akan kami lanjutkan setelah makan malam, ya.. meskipun ini adalah tugas Negara yang harus kita laksanakan sebaik-baiknya tapi kami semua perlu makan, jadi kami skor waktunya. Harap para hadirin dan para saksi memahami hal ini.
“begini pak, bos kami bersedia menggelontorkan dana besar untuk memenangkan pemilihannya. Jadi kami berharap bapak bapak penyelenggara penghitungan suara bersedia bekerja sama dengan kami”
“ya.. kalau sesuai kami bersedia membantu bapak untuk memenangkan calon bapak”
“Berapa yang Bapak-bapak minta?”
“sediakan kami masing-masing seratus juta, kami Sembilan orang, berarti Sembilan ratus juta”
“baiklah, kalau begitu saya akan menelpn bos saya dulu..oh ya, mari, mari, mari…makanannya di nikmati bapak bapak.”
Sambil terkekeh kekeh lelaki itu menelpn sesorang, setelah mengatakan masing-masing seratus juta sebanyak Sembilan orang menjadi Sembilan ratus juta. Lelaki yang menelpon itu hanya menjawab ya, ya, ya, dan ya. Mungkin puluhan kali dia mengulang kata “ya” dalam pembicaraan telpn itu.
“ehem ehem…Bapak-bapak. Jadi pad prinsipnya bos kami menyetejui permintan bapak-bapak yaitu seratus juta untuk masing-masing anggota. Namun, kami akan mencairkan setengahnya dulu. Karena kami tidak membawa uang cas sebanyak itu. Kan bapak-bapak tau sendiri bagaiman tajamnya mata pisau di negeri ini..he hhe he….”
“ya, kami mengerti”
“jadi kami bayar setengahnya dulu, kami bayar masing-masing lima puluh juta, bagaimna?”
Setelah puas makan-makan dan melipat uang bagian masing-masing, para penyelenggara penghitungan suara itu tersenyum. Tidak lupa mereka menepuk pipi pelayan café tempat meeka transaksi itu dan membenamkan seratus ribuan ke dalam kutang pelayan itu sambil berbisik “sisanya ntar malam setelah perhitungan selesai”
…………
“hadirin, perhitungan suran akan kita lanjutkan, sekarang kita telah sampai pada rekafitulasi hasil suara. Maka disini dapat kami umukan bahwa perolehan suara untuk nomor satu sampai calon nomor 5 mendapatkan nol suara, sedangkan calon nomr 6 mendapatkan 2 buah suara dan calon nomor 7 mendapatkan 100 suara.