KALIMAT EFEKTIF PADA KARANGAN YANG EFEKTIF
Oleh Bohri Rahman
PENDAHULUAN
Kita menulis untuk menyampaikan pikiran atau perasaan
kita. Akan tetapi, terkadang apa yang
ingin kita sampaikan kepada pembaca tidak sampai dengan sempurna. Akibatnya,
pembaca menjadi salah pengertian dan tidak memahami apa yang ingin kita
sampaikan dengan tulisan kita. Mungkin, kalimat yang kita gunakan belum efektif
sehingga informasi atau pikiran yang kita sampaikan tidak efektif dan tidak
dapat dipahami oleh pembaca.
Setelah tiga
kali berturut-turut saya meminta mahasiswa untuk menulis, nampaknya kasus
seperti yang saya sampaikan di atas masih terjadi. Masih banyak kalimat yang
mereka gunakan belum efektif. Hal ini mungkin karena kurangnya pengetahuan
mereka tentang bagaimana seharusnya kalimat yang mereka gunakan dalam menulis
ide atau pikran mereka, agar ide tersebut sampai kepada pembaca dengan
sempurna. Namun demikian, saya berbangga, bahwa mereka telah memulai menulis
dan berlatih menggunakan bahasa tulis untuk menyampaikan gagasan mereka. Saya
berkesimpulan, bahwa dengan terus melatih mereka menulis, mereka akan menjadi
penulis yang handal.
Hal ini, mengilhami
saya untuk memberikan mereka petunjuk tentang kalimat yang efektif pada
karangan dan melatih mereka untuk mencoba dan mencoba lagi membuat kalimat yang
efektif. Meskipun, nampak kebosanan pada raut wajah mereka. Saya sadar,
kemahiran menggunakan kalimat efektif tidak datang dengan sendirinya, tetapi diperoleh
dengan latihan yang terus menerus dan kemauan yang kuat.
KALIMAT EFEKTIF
Kalimat, akan
dikatakan efektif apabila kalimat tersebut mampu membuat penyampaian dan
penerimaan informasi berlangsung sempurna. Artinya, penerima (pembaca) sempurna
menerima informasi yang disampaikan penulis melalui kalimat yang diciptakannya.
Disamping itu, kalimat juga harus memiliki struktur yang benar atau satu
kesatuan bentuk, sebab kesatuan bentuk menjadikan kesatuan arti. Jadi, kalimat
efektif selalu memiliki struktur yang jelas. Setiap unsur yang terdapat di
dalamnya harus menempati posisi dalam hubungan satu sama lain.
Struktur Kalimat yang Efektif
Menurut Razak
(1985:8) dalam satu karya tulis, struktur kalimat hanya ada tiga macam, yaitu
(1) kalimat sederhana, (2) kalimat luas, dan (3) kalimat gabung. Perhatikanlah
kutipan berikut:
Aku sebenarnya seorang artis. Sukses yang kuperoleh di bidang lain,
tidak lain karena nasib baik. Aku bekerja sebagai penulis interviu dan artikel
dibidang film dan tokoh-tokoh Hollywood yang dimuat di luar negeri dalam
majalah perdagangan dan film Inggris. Pekerjaan itu tidak kusukai, tapi aku
memperoleh penghasilan yang besar darinya. Sungguh, sukses yang kuperoleh lebih
daripada cukup, kesenangan dan keselamatan terjamin. Tapi rasa jemu mengamuk
jua dalam jiwaku. Aku tidak puas dan keadaanku jauh dari bahagia. Sering
kuinginkan untuk menjadi seorang penyelidik, dan tentunya menjelajah
tempat-tempat yang jauh. Aku ingin melukis, lain tidak, tapi banyak hal-hal
yang menghambat. Aku berpendapat, bahwa orang-orang yang aku kenal mempunyai
pandangan yang dangkal. Tujuan dan ambisi mereka berbeda jauh dengan getaran
jiwaku. (Razak, 1985:9).
Baru saja membaca karangan ini, kita
menemukan dua buah kalimat sederhana:
(1)
Aku
sebetulnya seorang artis
(2)
Sukses
yang ku peroleh di tempat lain, tidak lain karena nasib baik
Setelah itu menyusul sebuah kalimat
gabung:
Aku bekerja sebagai penulis interviu dan artikel di bidang film dan
tokoh-tokoh Hollywood yang dimuat di luar negeri dalam majalah perdagangan dan
film Inggris.
Kemudian penulis menampilkan dua
buah kalimat luas:
(1)
Pekerjaan
itu tidak kusukai, tapi aku memperoleh penghasilan yang besar darinya.
(2)
Sungguh,
sukses yang kuperoleh lebih daripada cukup, kesenangan dan keselamatan
terjamin.
Menyusul lagi sebuah kalimat
sederhana:
Tapi
rasa jemu mengamuk jua dalam jiwaku
Selanjutnya sebuah kalimat luas
lagi:
Aku tidak puas
dan keadaanku jauh dari bahagia.
Kemudian sebuah kalimat gabung:
Sering kuinginkan untuk menjadi seorang penyelidik, dan tentunya
menjelajah tempat-tempat yang jauh.
Menyusul lagi dua buah kalimat luas:
(1)
Aku
ingin melukis, lain tidak, tapi banyak hal-hal yang menghambat.
(2)
Aku
berpendapat, bahwa orang-orang yang aku kenal mempunyai pandangan yang dangkal.
Dan akhirnya paragraf ini ditutup
dengan sebiah kalimat gabung:
Tujuan dan
ambisi mereka berbeda jauh dengan getaran jiwaku.
Jika kita
memperhatikan struktur kalimat di atas, kita akan bersimpulan bahwa kalimat
demi kalimat yang tersusun menjadi satu paragraf itu tersusun dengan sangat
efektif. Kalimat-kalimat tersebut menghadirkan cita rasa dan daya tarik yang
kuat, sehingga pembaca akan mudah menemukan maksud yang disampaikan penulis.
Selanjutnya,
mari kita bandingkan paragraf di atas dengan paragraf berikut.
Pada saat masa-masa di sekolah sudah banyak sekali kenang-kenangan
yang kita lalu bersama teman-teman di sekolah. Seperti sewaktu lagi susah,
senang, canda tawa, dan lain-lain. Kepengen sekali rasa saya kembali seperti
dulu semua itu hanya hayalan yang tak mungkin bisa terjadi. Sungguh, bahagia
sekali rasanya ketika lagi ngumpul saling berbagi cerita, begitu pula sewaktu
lagi mendapatkan masalah. Seberat apapun masalah itu rasanya ringan karena
setaip kita mempunyai masalah selalu kita pikul bersama.
Setelah
membandingkan kedua paragraf tersebut anda boleh berkomentar apa saja, yang
jelas, kalimat demi kalimat sang disajikan penulis belum efektif. Lihat saja
kalimat pertam pada paragraf tersebut “Pada saat masa-masa di sekolah sudah
banyak sekali kenang-kenangan yang kita lalu bersama teman-teman di sekolah” kalimat
ini terasa berbelit-belit, padahal penulis ingin menceritakan kenangannya di
sekolahnya dulu. Alagkah baiknya jika kalimat diatas kita ganti dengan “saya
memiliki banyak kenangan bersama teman-teman di sekolah” atau “ saya dan
teman-teman memiliki banyak kenangan di sekolah”. Namun, maklum, penulisnya
baru latihan tiga kali. Saya yakin, empat tahun kelak penulis kalimat tersebut
akan menjadi penulis yang handal, jika dia mau memperbaiki tulisannya dengan
terus menerus berlatih dan banyak membaca.
Ø Kalimat Sederhana
Kalimat
sederhana merupakan paparan yang paling elementer. kalimat sederhana hanya
memberikan satu informasi. Perhatikan kalimat berikut:
Mata saya mengantuk.
Malam sudah larut.
Orang tidur semua.
Kalimat-kalimat di atas merupakan
kalimat sederhana, karena hanya menyampaikan satu informasi. Badingkan dengan
kalimat berikut :
Gadis kecil penjaja kue itu, yang kemarin dikabarkan hilang, telah
ditemukan tadi pagi oleh seorang polisi.
Kalimat tersebut tentu bukan kalimat
sederhana karena memberikan beberapa informasi pada satu kalimat.
Ø Kalimat Luas
Kita mengetahui
bahwa kalimat sederhana hanya memberikan satu informasi. Kita juga telah
mengetahui bahwa kalimat yang memberikan dua atau lebih informasi pada satu
kalimat merupakan kalimat luas. Perhatikan kalimat berikut:
(1)
Orang
tua itu kedinginan.
(2)
Badannya
menggigil.
Kalimat di atas merupakan dua buah
kalimat sederhana yang masing-masing membawa satu informasi. Lain halnya dengan
kalimat berikut:
Orang tua itu kedinginan, badannya menggigil.
Kalimat
tersebut merupakan kalimat luas, karena memberikan dua informasi dalam satu
kalimat. Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa kalimat luas merupakan gabungan
dari beberapa kalimat sederhana, yang pertaliannya sangat erat.
Pola Dasar Kalimat Luas
Pola dasar
kalimat luas terdiri atas ruas-ruas dan masing-masing ruas menyerupai sebuah
kalimat sederhana. Sebuah kalimat luas mungkin saja terdiri atas dua ruas, tiga
ruas, empat ruas, dan seterusnnya. Jumlah ruas itu tergantung pada banyaknya
informasi yang terdapat didalamnya.
Unsur Penghubung dalam Kalimat Luas
Dalam kalimat
luas biasanya terdapat unsur penghubung, karena kalimat luas terbentuk melalui
proses penghubungan konstruksi-konstruksi yang berisi satu informasi. Dalam
hubungan ini, setidaknya ada tiga ragam penghubungan kalimat luas, yaitu (1)
kalimat luas yang dihubungkan oleh situasi, (2) kalimat lus yang dihubungkan
secar elips, dan (3) kalimat luas yang dihubungkan dengan oleh kata atau
kelompok kata tertentu yang khusus bertugas sebagai kata penghubung.
1)
Hubungan
situasi
Perhatikan
kalimat luasberikut:
Waktu
itu ayah sedang membaca surat kabar, ibu menjahit, saya menyalin pelajaran,
adik asik bermain dengan gelondongannya. Tiba-tiba adik menangis, ternyata
mainannya dilarikan kucing. Melihat kejadian itu kami semuanya tertawa, lantas
ibu menggendong adik.
Kalimat di
atas terdiri atas tiga buah kalimat
luas. Masing-masing ruas dihubungkan oleh situasi yang tengah berlangsung pada
waktu itu. Misalnya kalimat Waktu itu ayah sedang membaca surat kabar, ibu
menjahit, saya menyalin pelajaran, adik asik bermain dengan gelondongannya.Kalimat
ini berisi empat informasi, yaitu:
(1)
Waktu
itu ayah sedang membaca surat kabar
(2)
ibu
menjahit
(3)
saya
menyalin pelajaran
(4)
adik
asik bermain dengan gelondongannya
jadi, yang dimaksud dengan hubungan situasi adalah suatu keadaan di
mana tidak terdapat unsur formal yang menghubungkan beberapa buah
kalimatsederhana menjadi kalimat luas.
2)
Hubungan
Elips
Perhatikan
contoh kalimat berikut:
(1)
Ia
mengarang untuk satu tujuan
(2)
Tujuannya
membela orang-orang lemah
(dihubungkan) Ia mengarang untuk satu tujuan, membela nasib
orang-orang lemah.
Unsur yang seakan-akan lenyap pada kalimat di atas adalah unsur
subjek. Ini terlihat pada ruas kedua kalimat luas itu.
3)
Hubungan
dengan Kata Penghubung
Perhatikan
kalimat beikut:
Ada semacam
kecemasan di kalangan generasi muda bahwa pembabatan hutan secara
semena-mena akan berakibat langsung pada masa depan mereka.
Kalimat di atas
dihubungkan oleh kata penghubung formal, yaitu kata bahwa yang memang
bertugas menghubungkan dua buah kalimat sederhana menjadi kalimat luas.
Ruas Utama dan Ruas Bawahan
Kalimat-kalimat
luas di atas, merupakan kalimat luas yang pola ruas kalimat sederhana yang
menjadi akarnya sejajar. Selain kalimat seperti yang disajikan, terdapat
kalimat luas yang tiap ruasnya tidak berpola sama. Perhatikan kalimat berikut:
Lantaran lukanya parah, ia
terpaksa dirawat di rumah sakit.
Bagian kalimat yang tercetak tebal
tidak sepola dengan bagian kalimat yang tercetak biasa (tidak tercetak tebal).
Oleh karena itu, bagian kalimat yang tercetak tebal disebut ruas utama,
sementara bagian kalimat yang tercetak biasa disebut ruas bawahan. Kalimat
tersebut dikatakan ruas utama, karena kalimat tersebut mengandung pokok pikiran
atau maksud yang ingin disampaikan oleh penulis. Selain itu, kalimat tersebut mampu berdiri
sendirisebagai sebuah kalimat sederhana, karena ia merupakan satu kesatuan struktur
yang utuh.
Kalimat Lantaran
lukanya parah disebut ruas bawahan. Ruas bawahan berfungsi membantu dan
menerangkan agar kalimat luas itu secara keseluruhan merupakan pernyataan yang
dapat memberikan kesan yang mantap kepada pembaca. Oleh karena hanya membantu
ruas utama, ruas bawahan tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat, ruas
bawahan sangat tergantung pada ruas utama yang diterangkannya.
Ø Kalimat Gabung
Perhatikan
kalimat berikut: Rumah itu besar, rumah itu bagus, rumah itu megah. Jika
kita memerhatikan kalimat di atas, kalimat itu memiliki unsur subjek yang sama.
Yaitu, rumah itu. Oleh karena itu, alangkah efektifnya jika subjek
kalimat tersebut digabung, sehingga kalimat tersebut akan menjadi rumah itu
besar, bagus, dan megah. Kalimat yang digabungkan seperti ini disebut
kalimat gabung.
Kalimat Gabug vs Kalimat Sederhana
Peratikan
kalimat berikut: Tujuan dan ambisi mereka/ berbeda jauh dengan getaran
jiwaku. Sepintas lalu, kalimat ini nampak seperti kalimat sederhana.
Padahal, jika kita perhatikan kalimat ini merupakan kalimat gabung. Kalimat
tersebut mengandung lebih dari satu informasi. Padahal, kita telah sepakat
bahwa kalimat sederhana merupakan kalimat yang mengandung satu informasi.
Kalimat Gabung versus Kalimat Luas
Dari segi “isi
kalimat”, sebuah kalimat gabung dapat digolongkan ke dalam kalimat luas. Sebab
informasinya lebih dari satu. Tetapi akan lain halnya bila dilihat dari segi
struktur. Kalimat luas terdiri atas ruas-ruas yang berisi satu unsur subjek dan
satu unsur predikat, sementara tidak demikian dengan kalimat gabung.
Bagaimanakah caranya kita akan mengatakan kalimat Tujuan dan ambisi mereka/
berbeda jauh dengan getaran jiwaku terdiri dari ruas-ruas semacam itu.
Kalimat gabung memiliki konstruksi tersendiri yang terbentuk melalui proses
tersendiri pula.
SYARAT-SYARAT
KALIMAT EFEKTIF
Kalimat efektif setidaknya memiliki enam syarat ( Finoza, 2010:172),
yaitu (1) kesatuan, (2) Kepaduan, (3) keparalelan, (4) ketepatan, (5)
kehematan, (6) kelogisan.
1. Kesatuan
Kesatuan kalimat adalah kesatua ide yang
terdapat pada kalimat tersebut, atau dengan kata lain pad kalimat tersebut
hanya terdapat satu ide pokok yang menjadi pokok pembahasan kalimat.
Perhatikan kalimat berikut.
Pembangunan gedung kampus baru pihak
yayasan dibantu oleh bank yang memberikan kredit.
Kalimat di atas, memiliki subjek ganda,
yaitu pihak yayasan yang membangun
gedung baru dan Bank yang memberikan
bantuan berupa kredit. Dengan demikian, kalimat tersebut tidak mencerminkan
kesatuan ide kalimat. Apakah kalimat tersebut menceritakan yayasan yang
membangun gedung baru ataukah bank yang memberikan bantuan berupa kredit.
Ketidak jelasan ide pada kalimat tersebut menjadikan kalimat tersebut tidak
efektif. Alangkah baiknya jika kalimat tersebut kita perbaiki menjadi kalimat
berikut.
Pihak yayasan dibantu oleh bank yang memberikan
kredit untuk membangun gedung kampus baru. Atau Bank
memberikan kredit kepada pihak yayasan untuk membangun gedung kampus baru.
2.
Kepaduan (koherensi)
Koherensi adalah terjadinya hubungan yang
padu antara unsur-unsur pembentuk kalimat. Unsur pembentuk kalimat adalah kata,
frasa, klausa, tanda baca (fungtuasi), dan fungsi sintaksis (S-P-O-Pel-Ket).
Perhatikan kalimat berikut.
Kepada setiap pengemudi mobil harus memiliki surat
izin mengemudi
SIMPULAN
Menulis
bertujuan untuk menyampaikan informasi kepada pembaca melalui wadah tulisan.
Tulisan yang baik tentu akan mengantarkan informasi dengan lebih baik dari
tulisan yang kurang baik. Namun demikian, menulis sebagai sebuah keterampilan
berbahasa tidak datang dengan sendirinya. Menulis perlu dibiasakan dengan
banyak berlatih dan terus belajar menggunakan kata dan kalimat agar
penggunaannya efektif. Hal semacam itulah yang ingin saya katakan melalui
tulisan sederhana ini.
Kata-kata bisa
menyampaikan informasi dengan jelas apabila kata-kata tersebut telah terangkai
menjadi kalimat. Maka kalimat menjadi sedemikian penting diperhatikan agar
maksud yang ingin disampaikan tersebut sampai dengan baik. Kalimat yang
digunakan pada tiap tulisan pada dasarnya terdiri dari kalimat sederhana,
kalimat luas, dan kalimat gabung. Kalimat-kalimat ini memiliki
struktur-struktur tersediri dari proses yang tersendiri pula. Akhirnya, saya
mengucapkan selamat berlatih, semoga kelak bermanfaaat untuk kita semua. Amin.
Daftar Pustaka
Arifin, E. Zaenal.2000. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta
: Akademika Presindo.
Efendi, S.1998. Panduan Berbahasa Indonesia dengan Baik dan
Benar. Jakarta: Pustaka Jaya.
Finoza, Lamudin.2010. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta:
Diksi.
Hernowo.2001. Mengikat Makna. Bandung: Kaifa.
Razak, abdul.1985.Kalimat Efektif Struktur, Gaya, dan Variasi.
Jakarta: Gramedia
Sapioedin, Aziz.1987.Membina Bahasa Indonesia. Bandung:
Alumni.
Suryaman, Ukun.1998. Dasar-Dasar Bahasa Indonesia Baku. Bandung:
Alumni.
Wibowo, Wahyu.2001. Otonomi Bahasa. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Yulianeta dan Sri Wiyanti.2009. Bahasa dan Sastra Indonesia di
Tengah Arus Global. Bandung: Jurdiksastrasia FPBS-UPI.