Kamis, 10 Juli 2014
Senin, 19 Mei 2014
KALIMAT EFEKTIF PADA KARANGAN YANG EFEKTIF
KALIMAT EFEKTIF PADA KARANGAN YANG EFEKTIF
Oleh Bohri Rahman
PENDAHULUAN
Kita menulis untuk menyampaikan pikiran atau perasaan
kita. Akan tetapi, terkadang apa yang
ingin kita sampaikan kepada pembaca tidak sampai dengan sempurna. Akibatnya,
pembaca menjadi salah pengertian dan tidak memahami apa yang ingin kita
sampaikan dengan tulisan kita. Mungkin, kalimat yang kita gunakan belum efektif
sehingga informasi atau pikiran yang kita sampaikan tidak efektif dan tidak
dapat dipahami oleh pembaca.
Setelah tiga
kali berturut-turut saya meminta mahasiswa untuk menulis, nampaknya kasus
seperti yang saya sampaikan di atas masih terjadi. Masih banyak kalimat yang
mereka gunakan belum efektif. Hal ini mungkin karena kurangnya pengetahuan
mereka tentang bagaimana seharusnya kalimat yang mereka gunakan dalam menulis
ide atau pikran mereka, agar ide tersebut sampai kepada pembaca dengan
sempurna. Namun demikian, saya berbangga, bahwa mereka telah memulai menulis
dan berlatih menggunakan bahasa tulis untuk menyampaikan gagasan mereka. Saya
berkesimpulan, bahwa dengan terus melatih mereka menulis, mereka akan menjadi
penulis yang handal.
Hal ini, mengilhami
saya untuk memberikan mereka petunjuk tentang kalimat yang efektif pada
karangan dan melatih mereka untuk mencoba dan mencoba lagi membuat kalimat yang
efektif. Meskipun, nampak kebosanan pada raut wajah mereka. Saya sadar,
kemahiran menggunakan kalimat efektif tidak datang dengan sendirinya, tetapi diperoleh
dengan latihan yang terus menerus dan kemauan yang kuat.
KALIMAT EFEKTIF
Kalimat, akan
dikatakan efektif apabila kalimat tersebut mampu membuat penyampaian dan
penerimaan informasi berlangsung sempurna. Artinya, penerima (pembaca) sempurna
menerima informasi yang disampaikan penulis melalui kalimat yang diciptakannya.
Disamping itu, kalimat juga harus memiliki struktur yang benar atau satu
kesatuan bentuk, sebab kesatuan bentuk menjadikan kesatuan arti. Jadi, kalimat
efektif selalu memiliki struktur yang jelas. Setiap unsur yang terdapat di
dalamnya harus menempati posisi dalam hubungan satu sama lain.
Struktur Kalimat yang Efektif
Menurut Razak
(1985:8) dalam satu karya tulis, struktur kalimat hanya ada tiga macam, yaitu
(1) kalimat sederhana, (2) kalimat luas, dan (3) kalimat gabung. Perhatikanlah
kutipan berikut:
Aku sebenarnya seorang artis. Sukses yang kuperoleh di bidang lain,
tidak lain karena nasib baik. Aku bekerja sebagai penulis interviu dan artikel
dibidang film dan tokoh-tokoh Hollywood yang dimuat di luar negeri dalam
majalah perdagangan dan film Inggris. Pekerjaan itu tidak kusukai, tapi aku
memperoleh penghasilan yang besar darinya. Sungguh, sukses yang kuperoleh lebih
daripada cukup, kesenangan dan keselamatan terjamin. Tapi rasa jemu mengamuk
jua dalam jiwaku. Aku tidak puas dan keadaanku jauh dari bahagia. Sering
kuinginkan untuk menjadi seorang penyelidik, dan tentunya menjelajah
tempat-tempat yang jauh. Aku ingin melukis, lain tidak, tapi banyak hal-hal
yang menghambat. Aku berpendapat, bahwa orang-orang yang aku kenal mempunyai
pandangan yang dangkal. Tujuan dan ambisi mereka berbeda jauh dengan getaran
jiwaku. (Razak, 1985:9).
Baru saja membaca karangan ini, kita
menemukan dua buah kalimat sederhana:
(1)
Aku
sebetulnya seorang artis
(2)
Sukses
yang ku peroleh di tempat lain, tidak lain karena nasib baik
Setelah itu menyusul sebuah kalimat
gabung:
Aku bekerja sebagai penulis interviu dan artikel di bidang film dan
tokoh-tokoh Hollywood yang dimuat di luar negeri dalam majalah perdagangan dan
film Inggris.
Kemudian penulis menampilkan dua
buah kalimat luas:
(1)
Pekerjaan
itu tidak kusukai, tapi aku memperoleh penghasilan yang besar darinya.
(2)
Sungguh,
sukses yang kuperoleh lebih daripada cukup, kesenangan dan keselamatan
terjamin.
Menyusul lagi sebuah kalimat
sederhana:
Tapi
rasa jemu mengamuk jua dalam jiwaku
Selanjutnya sebuah kalimat luas
lagi:
Aku tidak puas
dan keadaanku jauh dari bahagia.
Kemudian sebuah kalimat gabung:
Sering kuinginkan untuk menjadi seorang penyelidik, dan tentunya
menjelajah tempat-tempat yang jauh.
Menyusul lagi dua buah kalimat luas:
(1)
Aku
ingin melukis, lain tidak, tapi banyak hal-hal yang menghambat.
(2)
Aku
berpendapat, bahwa orang-orang yang aku kenal mempunyai pandangan yang dangkal.
Dan akhirnya paragraf ini ditutup
dengan sebiah kalimat gabung:
Tujuan dan
ambisi mereka berbeda jauh dengan getaran jiwaku.
Jika kita
memperhatikan struktur kalimat di atas, kita akan bersimpulan bahwa kalimat
demi kalimat yang tersusun menjadi satu paragraf itu tersusun dengan sangat
efektif. Kalimat-kalimat tersebut menghadirkan cita rasa dan daya tarik yang
kuat, sehingga pembaca akan mudah menemukan maksud yang disampaikan penulis.
Selanjutnya,
mari kita bandingkan paragraf di atas dengan paragraf berikut.
Pada saat masa-masa di sekolah sudah banyak sekali kenang-kenangan
yang kita lalu bersama teman-teman di sekolah. Seperti sewaktu lagi susah,
senang, canda tawa, dan lain-lain. Kepengen sekali rasa saya kembali seperti
dulu semua itu hanya hayalan yang tak mungkin bisa terjadi. Sungguh, bahagia
sekali rasanya ketika lagi ngumpul saling berbagi cerita, begitu pula sewaktu
lagi mendapatkan masalah. Seberat apapun masalah itu rasanya ringan karena
setaip kita mempunyai masalah selalu kita pikul bersama.
Setelah
membandingkan kedua paragraf tersebut anda boleh berkomentar apa saja, yang
jelas, kalimat demi kalimat sang disajikan penulis belum efektif. Lihat saja
kalimat pertam pada paragraf tersebut “Pada saat masa-masa di sekolah sudah
banyak sekali kenang-kenangan yang kita lalu bersama teman-teman di sekolah” kalimat
ini terasa berbelit-belit, padahal penulis ingin menceritakan kenangannya di
sekolahnya dulu. Alagkah baiknya jika kalimat diatas kita ganti dengan “saya
memiliki banyak kenangan bersama teman-teman di sekolah” atau “ saya dan
teman-teman memiliki banyak kenangan di sekolah”. Namun, maklum, penulisnya
baru latihan tiga kali. Saya yakin, empat tahun kelak penulis kalimat tersebut
akan menjadi penulis yang handal, jika dia mau memperbaiki tulisannya dengan
terus menerus berlatih dan banyak membaca.
Ø Kalimat Sederhana
Kalimat
sederhana merupakan paparan yang paling elementer. kalimat sederhana hanya
memberikan satu informasi. Perhatikan kalimat berikut:
Mata saya mengantuk.
Malam sudah larut.
Orang tidur semua.
Kalimat-kalimat di atas merupakan
kalimat sederhana, karena hanya menyampaikan satu informasi. Badingkan dengan
kalimat berikut :
Gadis kecil penjaja kue itu, yang kemarin dikabarkan hilang, telah
ditemukan tadi pagi oleh seorang polisi.
Kalimat tersebut tentu bukan kalimat
sederhana karena memberikan beberapa informasi pada satu kalimat.
Ø Kalimat Luas
Kita mengetahui
bahwa kalimat sederhana hanya memberikan satu informasi. Kita juga telah
mengetahui bahwa kalimat yang memberikan dua atau lebih informasi pada satu
kalimat merupakan kalimat luas. Perhatikan kalimat berikut:
(1)
Orang
tua itu kedinginan.
(2)
Badannya
menggigil.
Kalimat di atas merupakan dua buah
kalimat sederhana yang masing-masing membawa satu informasi. Lain halnya dengan
kalimat berikut:
Orang tua itu kedinginan, badannya menggigil.
Kalimat
tersebut merupakan kalimat luas, karena memberikan dua informasi dalam satu
kalimat. Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa kalimat luas merupakan gabungan
dari beberapa kalimat sederhana, yang pertaliannya sangat erat.
Pola Dasar Kalimat Luas
Pola dasar
kalimat luas terdiri atas ruas-ruas dan masing-masing ruas menyerupai sebuah
kalimat sederhana. Sebuah kalimat luas mungkin saja terdiri atas dua ruas, tiga
ruas, empat ruas, dan seterusnnya. Jumlah ruas itu tergantung pada banyaknya
informasi yang terdapat didalamnya.
Unsur Penghubung dalam Kalimat Luas
Dalam kalimat
luas biasanya terdapat unsur penghubung, karena kalimat luas terbentuk melalui
proses penghubungan konstruksi-konstruksi yang berisi satu informasi. Dalam
hubungan ini, setidaknya ada tiga ragam penghubungan kalimat luas, yaitu (1)
kalimat luas yang dihubungkan oleh situasi, (2) kalimat lus yang dihubungkan
secar elips, dan (3) kalimat luas yang dihubungkan dengan oleh kata atau
kelompok kata tertentu yang khusus bertugas sebagai kata penghubung.
1)
Hubungan
situasi
Perhatikan
kalimat luasberikut:
Waktu
itu ayah sedang membaca surat kabar, ibu menjahit, saya menyalin pelajaran,
adik asik bermain dengan gelondongannya. Tiba-tiba adik menangis, ternyata
mainannya dilarikan kucing. Melihat kejadian itu kami semuanya tertawa, lantas
ibu menggendong adik.
Kalimat di
atas terdiri atas tiga buah kalimat
luas. Masing-masing ruas dihubungkan oleh situasi yang tengah berlangsung pada
waktu itu. Misalnya kalimat Waktu itu ayah sedang membaca surat kabar, ibu
menjahit, saya menyalin pelajaran, adik asik bermain dengan gelondongannya.Kalimat
ini berisi empat informasi, yaitu:
(1)
Waktu
itu ayah sedang membaca surat kabar
(2)
ibu
menjahit
(3)
saya
menyalin pelajaran
(4)
adik
asik bermain dengan gelondongannya
jadi, yang dimaksud dengan hubungan situasi adalah suatu keadaan di
mana tidak terdapat unsur formal yang menghubungkan beberapa buah
kalimatsederhana menjadi kalimat luas.
2)
Hubungan
Elips
Perhatikan
contoh kalimat berikut:
(1)
Ia
mengarang untuk satu tujuan
(2)
Tujuannya
membela orang-orang lemah
(dihubungkan) Ia mengarang untuk satu tujuan, membela nasib
orang-orang lemah.
Unsur yang seakan-akan lenyap pada kalimat di atas adalah unsur
subjek. Ini terlihat pada ruas kedua kalimat luas itu.
3)
Hubungan
dengan Kata Penghubung
Perhatikan
kalimat beikut:
Ada semacam
kecemasan di kalangan generasi muda bahwa pembabatan hutan secara
semena-mena akan berakibat langsung pada masa depan mereka.
Kalimat di atas
dihubungkan oleh kata penghubung formal, yaitu kata bahwa yang memang
bertugas menghubungkan dua buah kalimat sederhana menjadi kalimat luas.
Ruas Utama dan Ruas Bawahan
Kalimat-kalimat
luas di atas, merupakan kalimat luas yang pola ruas kalimat sederhana yang
menjadi akarnya sejajar. Selain kalimat seperti yang disajikan, terdapat
kalimat luas yang tiap ruasnya tidak berpola sama. Perhatikan kalimat berikut:
Lantaran lukanya parah, ia
terpaksa dirawat di rumah sakit.
Bagian kalimat yang tercetak tebal
tidak sepola dengan bagian kalimat yang tercetak biasa (tidak tercetak tebal).
Oleh karena itu, bagian kalimat yang tercetak tebal disebut ruas utama,
sementara bagian kalimat yang tercetak biasa disebut ruas bawahan. Kalimat
tersebut dikatakan ruas utama, karena kalimat tersebut mengandung pokok pikiran
atau maksud yang ingin disampaikan oleh penulis. Selain itu, kalimat tersebut mampu berdiri
sendirisebagai sebuah kalimat sederhana, karena ia merupakan satu kesatuan struktur
yang utuh.
Kalimat Lantaran
lukanya parah disebut ruas bawahan. Ruas bawahan berfungsi membantu dan
menerangkan agar kalimat luas itu secara keseluruhan merupakan pernyataan yang
dapat memberikan kesan yang mantap kepada pembaca. Oleh karena hanya membantu
ruas utama, ruas bawahan tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat, ruas
bawahan sangat tergantung pada ruas utama yang diterangkannya.
Ø Kalimat Gabung
Perhatikan
kalimat berikut: Rumah itu besar, rumah itu bagus, rumah itu megah. Jika
kita memerhatikan kalimat di atas, kalimat itu memiliki unsur subjek yang sama.
Yaitu, rumah itu. Oleh karena itu, alangkah efektifnya jika subjek
kalimat tersebut digabung, sehingga kalimat tersebut akan menjadi rumah itu
besar, bagus, dan megah. Kalimat yang digabungkan seperti ini disebut
kalimat gabung.
Kalimat Gabug vs Kalimat Sederhana
Peratikan
kalimat berikut: Tujuan dan ambisi mereka/ berbeda jauh dengan getaran
jiwaku. Sepintas lalu, kalimat ini nampak seperti kalimat sederhana.
Padahal, jika kita perhatikan kalimat ini merupakan kalimat gabung. Kalimat
tersebut mengandung lebih dari satu informasi. Padahal, kita telah sepakat
bahwa kalimat sederhana merupakan kalimat yang mengandung satu informasi.
Kalimat Gabung versus Kalimat Luas
Dari segi “isi
kalimat”, sebuah kalimat gabung dapat digolongkan ke dalam kalimat luas. Sebab
informasinya lebih dari satu. Tetapi akan lain halnya bila dilihat dari segi
struktur. Kalimat luas terdiri atas ruas-ruas yang berisi satu unsur subjek dan
satu unsur predikat, sementara tidak demikian dengan kalimat gabung.
Bagaimanakah caranya kita akan mengatakan kalimat Tujuan dan ambisi mereka/
berbeda jauh dengan getaran jiwaku terdiri dari ruas-ruas semacam itu.
Kalimat gabung memiliki konstruksi tersendiri yang terbentuk melalui proses
tersendiri pula.
SYARAT-SYARAT
KALIMAT EFEKTIF
Kalimat efektif setidaknya memiliki enam syarat ( Finoza, 2010:172),
yaitu (1) kesatuan, (2) Kepaduan, (3) keparalelan, (4) ketepatan, (5)
kehematan, (6) kelogisan.
1. Kesatuan
Kesatuan kalimat adalah kesatua ide yang
terdapat pada kalimat tersebut, atau dengan kata lain pad kalimat tersebut
hanya terdapat satu ide pokok yang menjadi pokok pembahasan kalimat.
Perhatikan kalimat berikut.
Pembangunan gedung kampus baru pihak
yayasan dibantu oleh bank yang memberikan kredit.
Kalimat di atas, memiliki subjek ganda,
yaitu pihak yayasan yang membangun
gedung baru dan Bank yang memberikan
bantuan berupa kredit. Dengan demikian, kalimat tersebut tidak mencerminkan
kesatuan ide kalimat. Apakah kalimat tersebut menceritakan yayasan yang
membangun gedung baru ataukah bank yang memberikan bantuan berupa kredit.
Ketidak jelasan ide pada kalimat tersebut menjadikan kalimat tersebut tidak
efektif. Alangkah baiknya jika kalimat tersebut kita perbaiki menjadi kalimat
berikut.
Pihak yayasan dibantu oleh bank yang memberikan
kredit untuk membangun gedung kampus baru. Atau Bank
memberikan kredit kepada pihak yayasan untuk membangun gedung kampus baru.
2.
Kepaduan (koherensi)
Koherensi adalah terjadinya hubungan yang
padu antara unsur-unsur pembentuk kalimat. Unsur pembentuk kalimat adalah kata,
frasa, klausa, tanda baca (fungtuasi), dan fungsi sintaksis (S-P-O-Pel-Ket).
Perhatikan kalimat berikut.
Kepada setiap pengemudi mobil harus memiliki surat
izin mengemudi
SIMPULAN
Menulis
bertujuan untuk menyampaikan informasi kepada pembaca melalui wadah tulisan.
Tulisan yang baik tentu akan mengantarkan informasi dengan lebih baik dari
tulisan yang kurang baik. Namun demikian, menulis sebagai sebuah keterampilan
berbahasa tidak datang dengan sendirinya. Menulis perlu dibiasakan dengan
banyak berlatih dan terus belajar menggunakan kata dan kalimat agar
penggunaannya efektif. Hal semacam itulah yang ingin saya katakan melalui
tulisan sederhana ini.
Kata-kata bisa
menyampaikan informasi dengan jelas apabila kata-kata tersebut telah terangkai
menjadi kalimat. Maka kalimat menjadi sedemikian penting diperhatikan agar
maksud yang ingin disampaikan tersebut sampai dengan baik. Kalimat yang
digunakan pada tiap tulisan pada dasarnya terdiri dari kalimat sederhana,
kalimat luas, dan kalimat gabung. Kalimat-kalimat ini memiliki
struktur-struktur tersediri dari proses yang tersendiri pula. Akhirnya, saya
mengucapkan selamat berlatih, semoga kelak bermanfaaat untuk kita semua. Amin.
Daftar Pustaka
Arifin, E. Zaenal.2000. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta
: Akademika Presindo.
Efendi, S.1998. Panduan Berbahasa Indonesia dengan Baik dan
Benar. Jakarta: Pustaka Jaya.
Finoza, Lamudin.2010. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta:
Diksi.
Hernowo.2001. Mengikat Makna. Bandung: Kaifa.
Razak, abdul.1985.Kalimat Efektif Struktur, Gaya, dan Variasi.
Jakarta: Gramedia
Sapioedin, Aziz.1987.Membina Bahasa Indonesia. Bandung:
Alumni.
Suryaman, Ukun.1998. Dasar-Dasar Bahasa Indonesia Baku. Bandung:
Alumni.
Wibowo, Wahyu.2001. Otonomi Bahasa. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Yulianeta dan Sri Wiyanti.2009. Bahasa dan Sastra Indonesia di
Tengah Arus Global. Bandung: Jurdiksastrasia FPBS-UPI.
GERHANA
MATA HATI
Di sebuah perhitungan
suara hasil pemilihan
“Bagaiman ini? Suara
yang kita dapatkan sangat sedikit”
“Aku tidak mengerti,
mana Parjo?”
Seorang laki-laki
jangkung tergopoh gopoh “saya sudah mendistribusikan semuanya sesuai rencana
Pak, Paket Sabun, Paket Supermi dan Paket 10 ribu sudah saya sebar sesuai
rencana”
“Tapi kok… ah
sudahlah... terus amati perkembangannya ya sambil tunggu perintah selanjutnya”
ayo kita liat temapt lain.
Kedua laki-laki
berpakaian rapi itu meninggalkan tempat perhitungan suara yang menurutnya kacau
itu, sambil memasuki mobilnya dia tak henti-hentinya menggerutu, memaki, bahkan
mungkin entahlah apa katanya.
Selang beberpa menit
kemudian sedan hijau parkir. Seorang lelaki berperawakan tinggi keluar dari
sedan. Dia berdiri sebentar, melihat lihat, kemudian menghampiri petugas yang
sedang menghitung perolehan suara.
“Pak Ketua, saya
melihat cara orang di desa lain begini caranya”
“Bagaimana caranya?”
“Jika suaranya untuk
nomor 4, atau nomor 5, atau nomr 3, atau apa saja, sebut saja “NOMOR 6” dengan
keras, saksi-saksi lain tidak akan memperhatikan kok. Begitu cara mereka main”
“Begitu ya?”
“Ya, usahakanlah. Agar
kita mendapatkan suara maksimal di sini”
Lelaki yang merupakan
petugas itu kelihatan manggur-manggut, entah pertanda mengerti dan akan
melakukan ataukah pertanda tidak mengerti namun bermaksud menghibur lelaki
lawan bicaranya.
Lelaki bersedan itu
mengeluarkan amplop sedikit buncit, dan menyodorkannya kepada ketua
penyelenggara perhitungan suara itu. Ketua penyelenggara penghitungan suara itu
menoleh kiri kanan kemudian tersenyum.
“Tenang saja Pak, saya
atur”
Lelaki bersedan itu
keliatan puas. Dia mengendarai sedannya dengan sedikit senyum di bibirnya. “Kalian
semua dapat saya beli” pikirnya.
Perhitungan suara masih
terus berjalan. Hujan interupsi dan keberatan saksi memenuhi jalannya
perhitungan. Ada beberapa saksi yang walkout dari tempat peritungan suara.
“Ambilkan pengeras
suara!” Teriak ketua. “Ya ambilkan pengeras suara agar para hadirin dan para
saksi mendengar dengan jelas”.
“Nomor 6”
“Nomor 6”
“Nomor 6”
Suara pengeras suara
menggelegar memekakan telinga.
“Interupsi pak ketua.
Tolong kertas susranya diangkat lebih tinggi agar kami bias menyaksikannya”
“Interupsi pak ketua,
tolong kertas suaranya dibuka dulu baru menyebutkan nomornya”
“Interupsi pak ketua,
kertas suara di balik dulu, kami tidak bisa melihar coblosannya”
Hujan interupsi dari
saksi itu tidak dihiraukan oleh para petugas perhitungan suara. Mereka terus
saja berteriak teriak, bahkan mungkin lebih tepatnya menjerit jerit meneriakkan
nomor pesanan yang mereka telah dibayar. Ada atau tidak ada kertas suara di tangannya,
mereka terus meneriakkan pesanan itu. Begitu juga petugas lain yang bertugas
menuliskan suara yang diteriakkan itu di kertas besar model plano yang
terpasang di dinding. Dia terus saja mencoret coret kertas itu. Entah sudah
berapa puluh atau berapa ratus bahkan berapa ribu yang dia tulis…
“Interupsi pak ketua.
Berhubung gelap kami butuh penerangan agar kami bisa melihat kertas suara”
“Sediakan Penerangan
yang cukup” perintah ketua perhitungan suaran. Lampu penerang pun berukuran
sedang dipasang.
Interupsi pak ketua,
kami masih belum bias melihat, mungkin peneranganya terlalu kecil, mohon lampu
yang agak besar.
Lampu penerangan
berkapasitas ratusa watt dipasang ditempat perhitungan suara itu, namun
interupsi masih terus saja berlangsung. Begitu juga terukan nomor 6 masih terus
terdengar meski sekarang sudah mulai parau, sudah sayup-sayup pengeras suara
itu menyebut nomor pesanan itu.
Suasana panik itu
terhenti sejenak oleh azan. Allahu akbar allahuakbar……azan itu seakan hendak
menyadarkan manusia manusia itu bahwa apa yang sedang mereka lakukan sekarang
tidak sesuai dengan hati nurani mereka. Azan itu mengetuk hati nurani mereka
agar mereka peka lagi, dan mengatakan yang enam adalah enam dan yang empat
adalah empat. Bukan malan mengatakan yang 3,4 dan 5 atau apa saja menjadi Enam.
Semua yang hadir di tempat itu tak satupun yang berkata kata, sumaunya
tertunduk, menukil kedalam diri mereka sendiri, sedalam dalamnya memahami
keberadaannya sendiri dan menarik napar lalu membuangnya.
“kita lanjutkan saudara-saudra”
teriak Ketua Penghitungan itu.
“apa tidak sebaiknya
kita skor dulu untuk solat”
“maaf, ini tugas
Negara, silahkan yang mau solat, solat saja. Maslahnya ini adalah tugas Negara
yang tidak bias saya anggap remeh. Kita harus melaksanakan tugas Negara dengan
sebaik-baiknya para hadirin”
Semua yang hadir disitu
manggut manggut, “benar juga kata pak ketua ini, kita sedang melaksanakan tugas
Negara semacam pembelaan terhadap Negara, bukankah para pejuang kemerdekaan
juga dulu begitu, meletakkan kewajiban terhadap kemerdekaan Negara di atas
seglanaya. Lihat saja bagaimana Bung Karno dan Bung Hatta, mereka rela
pecah-pecahan dengan sahabatnya Natsir untuk keperluan Negara”. Mereka
manggut-manggut seperti setuju untuk terus melakukan rapat perhitungan suara
itu.
“bagaimana
saudara-saudra? Apakah ada yang mau solat dulu atau kita tetap lanjutkan
perhitungan suara ini. Ingat saudara-saudara, ini adaah tugas Negara, kita
tidak bias menganggap tugas ini remeh.”
“baiklah, kami bersedia
untuk melanjutkan perhitungan suara.”
“mohon maaf pak ketua
sebelum melakukan perhitungan suara ini, kami bermaksud untuk berdiskusi dulu
dengan pak ketua dan anggota. Berhubungsekarang sudah waktunya makan malam.
Nanti setelah kita makan malam, baru pak ketua dan anggota melanjutkan
perhitungan suara.
“tunggu sebentar, kami
perlu berdiskusi untuk menjawab tawaran saudara. Kasih kami waktu dua menit”
Setelah berdiskusi
dengan anggotanya pak ketua mengumumkan bahwa rapat perhitungan suara akan
dilanjutkan setelah makan malam.
“mohon maaf para saksi
dan hadirin, rapat perhitungan suara akan kami lanjutkan setelah makan malam,
ya.. meskipun ini adalah tugas Negara yang harus kita laksanakan sebaik-baiknya
tapi kami semua perlu makan, jadi kami skor waktunya. Harap para hadirin dan para
saksi memahami hal ini.
“begini pak, bos kami
bersedia menggelontorkan dana besar untuk memenangkan pemilihannya. Jadi kami
berharap bapak bapak penyelenggara penghitungan suara bersedia bekerja sama
dengan kami”
“ya.. kalau sesuai kami
bersedia membantu bapak untuk memenangkan calon bapak”
“Berapa yang
Bapak-bapak minta?”
“sediakan kami
masing-masing seratus juta, kami Sembilan orang, berarti Sembilan ratus juta”
“baiklah, kalau begitu
saya akan menelpn bos saya dulu..oh ya, mari, mari, mari…makanannya di nikmati
bapak bapak.”
Sambil terkekeh kekeh
lelaki itu menelpn sesorang, setelah mengatakan masing-masing seratus juta
sebanyak Sembilan orang menjadi Sembilan ratus juta. Lelaki yang menelpon itu
hanya menjawab ya, ya, ya, dan ya. Mungkin puluhan kali dia mengulang kata “ya”
dalam pembicaraan telpn itu.
“ehem ehem…Bapak-bapak.
Jadi pad prinsipnya bos kami menyetejui permintan bapak-bapak yaitu seratus
juta untuk masing-masing anggota. Namun, kami akan mencairkan setengahnya dulu.
Karena kami tidak membawa uang cas sebanyak itu. Kan bapak-bapak tau sendiri
bagaiman tajamnya mata pisau di negeri ini..he hhe he….”
“ya, kami mengerti”
“jadi kami bayar
setengahnya dulu, kami bayar masing-masing lima puluh juta, bagaimna?”
Setelah puas
makan-makan dan melipat uang bagian masing-masing, para penyelenggara
penghitungan suara itu tersenyum. Tidak lupa mereka menepuk pipi pelayan café
tempat meeka transaksi itu dan membenamkan seratus ribuan ke dalam kutang
pelayan itu sambil berbisik “sisanya ntar malam setelah perhitungan selesai”
…………
“hadirin, perhitungan
suran akan kita lanjutkan, sekarang kita telah sampai pada rekafitulasi hasil
suara. Maka disini dapat kami umukan bahwa perolehan suara untuk nomor satu
sampai calon nomor 5 mendapatkan nol suara, sedangkan calon nomr 6 mendapatkan
2 buah suara dan calon nomor 7 mendapatkan 100 suara.
Langganan:
Postingan (Atom)