Senin, 19 Mei 2014

GERHANA MATA HATI

Di sebuah perhitungan suara hasil pemilihan
“Bagaiman ini? Suara yang kita dapatkan sangat sedikit”
“Aku tidak mengerti, mana Parjo?”
Seorang laki-laki jangkung tergopoh gopoh “saya sudah mendistribusikan semuanya sesuai rencana Pak, Paket Sabun, Paket Supermi dan Paket 10 ribu sudah saya sebar sesuai rencana”
“Tapi kok… ah sudahlah... terus amati perkembangannya ya sambil tunggu perintah selanjutnya” ayo kita liat temapt lain.
Kedua laki-laki berpakaian rapi itu meninggalkan tempat perhitungan suara yang menurutnya kacau itu, sambil memasuki mobilnya dia tak henti-hentinya menggerutu, memaki, bahkan mungkin entahlah apa katanya.

Selang beberpa menit kemudian sedan hijau parkir. Seorang lelaki berperawakan tinggi keluar dari sedan. Dia berdiri sebentar, melihat lihat, kemudian menghampiri petugas yang sedang menghitung perolehan suara.
“Pak Ketua, saya melihat cara orang di desa lain begini caranya”
“Bagaimana caranya?”
“Jika suaranya untuk nomor 4, atau nomor 5, atau nomr 3, atau apa saja, sebut saja “NOMOR 6” dengan keras, saksi-saksi lain tidak akan memperhatikan kok. Begitu cara mereka main”
“Begitu ya?”
“Ya, usahakanlah. Agar kita mendapatkan suara maksimal di sini”
Lelaki yang merupakan petugas itu kelihatan manggur-manggut, entah pertanda mengerti dan akan melakukan ataukah pertanda tidak mengerti namun bermaksud menghibur lelaki lawan bicaranya.
Lelaki bersedan itu mengeluarkan amplop sedikit buncit, dan menyodorkannya kepada ketua penyelenggara perhitungan suara itu. Ketua penyelenggara penghitungan suara itu menoleh kiri kanan kemudian tersenyum.
“Tenang saja Pak, saya atur”
Lelaki bersedan itu keliatan puas. Dia mengendarai sedannya dengan sedikit senyum di bibirnya. “Kalian semua dapat saya beli” pikirnya.
Perhitungan suara masih terus berjalan. Hujan interupsi dan keberatan saksi memenuhi jalannya perhitungan. Ada beberapa saksi yang walkout dari tempat peritungan suara.
“Ambilkan pengeras suara!” Teriak ketua. “Ya ambilkan pengeras suara agar para hadirin dan para saksi mendengar dengan jelas”.
“Nomor 6”
“Nomor 6”
“Nomor 6”
Suara pengeras suara menggelegar memekakan telinga.
“Interupsi pak ketua. Tolong kertas susranya diangkat lebih tinggi agar kami bias menyaksikannya”
“Interupsi pak ketua, tolong kertas suaranya dibuka dulu baru menyebutkan nomornya”
“Interupsi pak ketua, kertas suara di balik dulu, kami tidak bisa melihar coblosannya”

Hujan interupsi dari saksi itu tidak dihiraukan oleh para petugas perhitungan suara. Mereka terus saja berteriak teriak, bahkan mungkin lebih tepatnya menjerit jerit meneriakkan nomor pesanan yang mereka telah dibayar. Ada atau tidak ada kertas suara di tangannya, mereka terus meneriakkan pesanan itu. Begitu juga petugas lain yang bertugas menuliskan suara yang diteriakkan itu di kertas besar model plano yang terpasang di dinding. Dia terus saja mencoret coret kertas itu. Entah sudah berapa puluh atau berapa ratus bahkan berapa ribu yang dia tulis…
“Interupsi pak ketua. Berhubung gelap kami butuh penerangan agar kami bisa melihat kertas suara”
“Sediakan Penerangan yang cukup” perintah ketua perhitungan suaran. Lampu penerang pun berukuran sedang dipasang.
Interupsi pak ketua, kami masih belum bias melihat, mungkin peneranganya terlalu kecil, mohon lampu yang agak besar.
Lampu penerangan berkapasitas ratusa watt dipasang ditempat perhitungan suara itu, namun interupsi masih terus saja berlangsung. Begitu juga terukan nomor 6 masih terus terdengar meski sekarang sudah mulai parau, sudah sayup-sayup pengeras suara itu menyebut nomor pesanan itu.
Suasana panik itu terhenti sejenak oleh azan. Allahu akbar allahuakbar……azan itu seakan hendak menyadarkan manusia manusia itu bahwa apa yang sedang mereka lakukan sekarang tidak sesuai dengan hati nurani mereka. Azan itu mengetuk hati nurani mereka agar mereka peka lagi, dan mengatakan yang enam adalah enam dan yang empat adalah empat. Bukan malan mengatakan yang 3,4 dan 5 atau apa saja menjadi Enam. Semua yang hadir di tempat itu tak satupun yang berkata kata, sumaunya tertunduk, menukil kedalam diri mereka sendiri, sedalam dalamnya memahami keberadaannya sendiri dan menarik napar lalu membuangnya.
“kita lanjutkan saudara-saudra” teriak Ketua Penghitungan itu.
“apa tidak sebaiknya kita skor dulu untuk solat”
“maaf, ini tugas Negara, silahkan yang mau solat, solat saja. Maslahnya ini adalah tugas Negara yang tidak bias saya anggap remeh. Kita harus melaksanakan tugas Negara dengan sebaik-baiknya para hadirin”
Semua yang hadir disitu manggut manggut, “benar juga kata pak ketua ini, kita sedang melaksanakan tugas Negara semacam pembelaan terhadap Negara, bukankah para pejuang kemerdekaan juga dulu begitu, meletakkan kewajiban terhadap kemerdekaan Negara di atas seglanaya. Lihat saja bagaimana Bung Karno dan Bung Hatta, mereka rela pecah-pecahan dengan sahabatnya Natsir untuk keperluan Negara”. Mereka manggut-manggut seperti setuju untuk terus melakukan rapat perhitungan suara itu.
“bagaimana saudara-saudra? Apakah ada yang mau solat dulu atau kita tetap lanjutkan perhitungan suara ini. Ingat saudara-saudara, ini adaah tugas Negara, kita tidak bias menganggap tugas ini remeh.”
“baiklah, kami bersedia untuk melanjutkan perhitungan suara.”
“mohon maaf pak ketua sebelum melakukan perhitungan suara ini, kami bermaksud untuk berdiskusi dulu dengan pak ketua dan anggota. Berhubungsekarang sudah waktunya makan malam. Nanti setelah kita makan malam, baru pak ketua dan anggota melanjutkan perhitungan suara.
“tunggu sebentar, kami perlu berdiskusi untuk menjawab tawaran saudara. Kasih kami waktu dua menit”
Setelah berdiskusi dengan anggotanya pak ketua mengumumkan bahwa rapat perhitungan suara akan dilanjutkan setelah makan malam.
“mohon maaf para saksi dan hadirin, rapat perhitungan suara akan kami lanjutkan setelah makan malam, ya.. meskipun ini adalah tugas Negara yang harus kita laksanakan sebaik-baiknya tapi kami semua perlu makan, jadi kami skor waktunya. Harap para hadirin dan para saksi memahami hal ini.
“begini pak, bos kami bersedia menggelontorkan dana besar untuk memenangkan pemilihannya. Jadi kami berharap bapak bapak penyelenggara penghitungan suara bersedia bekerja sama dengan kami”
“ya.. kalau sesuai kami bersedia membantu bapak untuk memenangkan calon bapak”
“Berapa yang Bapak-bapak minta?”
“sediakan kami masing-masing seratus juta, kami Sembilan orang, berarti Sembilan ratus juta”
“baiklah, kalau begitu saya akan menelpn bos saya dulu..oh ya, mari, mari, mari…makanannya di nikmati bapak bapak.”
Sambil terkekeh kekeh lelaki itu menelpn sesorang, setelah mengatakan masing-masing seratus juta sebanyak Sembilan orang menjadi Sembilan ratus juta. Lelaki yang menelpon itu hanya menjawab ya, ya, ya, dan ya. Mungkin puluhan kali dia mengulang kata “ya” dalam pembicaraan telpn itu.
“ehem ehem…Bapak-bapak. Jadi pad prinsipnya bos kami menyetejui permintan bapak-bapak yaitu seratus juta untuk masing-masing anggota. Namun, kami akan mencairkan setengahnya dulu. Karena kami tidak membawa uang cas sebanyak itu. Kan bapak-bapak tau sendiri bagaiman tajamnya mata pisau di negeri ini..he hhe he….”
“ya, kami mengerti”
“jadi kami bayar setengahnya dulu, kami bayar masing-masing lima puluh juta, bagaimna?”
Setelah puas makan-makan dan melipat uang bagian masing-masing, para penyelenggara penghitungan suara itu tersenyum. Tidak lupa mereka menepuk pipi pelayan café tempat meeka transaksi itu dan membenamkan seratus ribuan ke dalam kutang pelayan itu sambil berbisik “sisanya ntar malam setelah perhitungan selesai”
…………
“hadirin, perhitungan suran akan kita lanjutkan, sekarang kita telah sampai pada rekafitulasi hasil suara. Maka disini dapat kami umukan bahwa perolehan suara untuk nomor satu sampai calon nomor 5 mendapatkan nol suara, sedangkan calon nomr 6 mendapatkan 2 buah suara dan calon nomor 7 mendapatkan 100 suara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar