GERHANA
MATA HATI
Di sebuah perhitungan
suara hasil pemilihan
“Bagaiman ini? Suara
yang kita dapatkan sangat sedikit”
“Aku tidak mengerti,
mana Parjo?”
Seorang laki-laki
jangkung tergopoh gopoh “saya sudah mendistribusikan semuanya sesuai rencana
Pak, Paket Sabun, Paket Supermi dan Paket 10 ribu sudah saya sebar sesuai
rencana”
“Tapi kok… ah
sudahlah... terus amati perkembangannya ya sambil tunggu perintah selanjutnya”
ayo kita liat temapt lain.
Kedua laki-laki
berpakaian rapi itu meninggalkan tempat perhitungan suara yang menurutnya kacau
itu, sambil memasuki mobilnya dia tak henti-hentinya menggerutu, memaki, bahkan
mungkin entahlah apa katanya.
Selang beberpa menit
kemudian sedan hijau parkir. Seorang lelaki berperawakan tinggi keluar dari
sedan. Dia berdiri sebentar, melihat lihat, kemudian menghampiri petugas yang
sedang menghitung perolehan suara.
“Pak Ketua, saya
melihat cara orang di desa lain begini caranya”
“Bagaimana caranya?”
“Jika suaranya untuk
nomor 4, atau nomor 5, atau nomr 3, atau apa saja, sebut saja “NOMOR 6” dengan
keras, saksi-saksi lain tidak akan memperhatikan kok. Begitu cara mereka main”
“Begitu ya?”
“Ya, usahakanlah. Agar
kita mendapatkan suara maksimal di sini”
Lelaki yang merupakan
petugas itu kelihatan manggur-manggut, entah pertanda mengerti dan akan
melakukan ataukah pertanda tidak mengerti namun bermaksud menghibur lelaki
lawan bicaranya.
Lelaki bersedan itu
mengeluarkan amplop sedikit buncit, dan menyodorkannya kepada ketua
penyelenggara perhitungan suara itu. Ketua penyelenggara penghitungan suara itu
menoleh kiri kanan kemudian tersenyum.
“Tenang saja Pak, saya
atur”
Lelaki bersedan itu
keliatan puas. Dia mengendarai sedannya dengan sedikit senyum di bibirnya. “Kalian
semua dapat saya beli” pikirnya.
Perhitungan suara masih
terus berjalan. Hujan interupsi dan keberatan saksi memenuhi jalannya
perhitungan. Ada beberapa saksi yang walkout dari tempat peritungan suara.
“Ambilkan pengeras
suara!” Teriak ketua. “Ya ambilkan pengeras suara agar para hadirin dan para
saksi mendengar dengan jelas”.
“Nomor 6”
“Nomor 6”
“Nomor 6”
Suara pengeras suara
menggelegar memekakan telinga.
“Interupsi pak ketua.
Tolong kertas susranya diangkat lebih tinggi agar kami bias menyaksikannya”
“Interupsi pak ketua,
tolong kertas suaranya dibuka dulu baru menyebutkan nomornya”
“Interupsi pak ketua,
kertas suara di balik dulu, kami tidak bisa melihar coblosannya”
Hujan interupsi dari
saksi itu tidak dihiraukan oleh para petugas perhitungan suara. Mereka terus
saja berteriak teriak, bahkan mungkin lebih tepatnya menjerit jerit meneriakkan
nomor pesanan yang mereka telah dibayar. Ada atau tidak ada kertas suara di tangannya,
mereka terus meneriakkan pesanan itu. Begitu juga petugas lain yang bertugas
menuliskan suara yang diteriakkan itu di kertas besar model plano yang
terpasang di dinding. Dia terus saja mencoret coret kertas itu. Entah sudah
berapa puluh atau berapa ratus bahkan berapa ribu yang dia tulis…
“Interupsi pak ketua.
Berhubung gelap kami butuh penerangan agar kami bisa melihat kertas suara”
“Sediakan Penerangan
yang cukup” perintah ketua perhitungan suaran. Lampu penerang pun berukuran
sedang dipasang.
Interupsi pak ketua,
kami masih belum bias melihat, mungkin peneranganya terlalu kecil, mohon lampu
yang agak besar.
Lampu penerangan
berkapasitas ratusa watt dipasang ditempat perhitungan suara itu, namun
interupsi masih terus saja berlangsung. Begitu juga terukan nomor 6 masih terus
terdengar meski sekarang sudah mulai parau, sudah sayup-sayup pengeras suara
itu menyebut nomor pesanan itu.
Suasana panik itu
terhenti sejenak oleh azan. Allahu akbar allahuakbar……azan itu seakan hendak
menyadarkan manusia manusia itu bahwa apa yang sedang mereka lakukan sekarang
tidak sesuai dengan hati nurani mereka. Azan itu mengetuk hati nurani mereka
agar mereka peka lagi, dan mengatakan yang enam adalah enam dan yang empat
adalah empat. Bukan malan mengatakan yang 3,4 dan 5 atau apa saja menjadi Enam.
Semua yang hadir di tempat itu tak satupun yang berkata kata, sumaunya
tertunduk, menukil kedalam diri mereka sendiri, sedalam dalamnya memahami
keberadaannya sendiri dan menarik napar lalu membuangnya.
“kita lanjutkan saudara-saudra”
teriak Ketua Penghitungan itu.
“apa tidak sebaiknya
kita skor dulu untuk solat”
“maaf, ini tugas
Negara, silahkan yang mau solat, solat saja. Maslahnya ini adalah tugas Negara
yang tidak bias saya anggap remeh. Kita harus melaksanakan tugas Negara dengan
sebaik-baiknya para hadirin”
Semua yang hadir disitu
manggut manggut, “benar juga kata pak ketua ini, kita sedang melaksanakan tugas
Negara semacam pembelaan terhadap Negara, bukankah para pejuang kemerdekaan
juga dulu begitu, meletakkan kewajiban terhadap kemerdekaan Negara di atas
seglanaya. Lihat saja bagaimana Bung Karno dan Bung Hatta, mereka rela
pecah-pecahan dengan sahabatnya Natsir untuk keperluan Negara”. Mereka
manggut-manggut seperti setuju untuk terus melakukan rapat perhitungan suara
itu.
“bagaimana
saudara-saudra? Apakah ada yang mau solat dulu atau kita tetap lanjutkan
perhitungan suara ini. Ingat saudara-saudara, ini adaah tugas Negara, kita
tidak bias menganggap tugas ini remeh.”
“baiklah, kami bersedia
untuk melanjutkan perhitungan suara.”
“mohon maaf pak ketua
sebelum melakukan perhitungan suara ini, kami bermaksud untuk berdiskusi dulu
dengan pak ketua dan anggota. Berhubungsekarang sudah waktunya makan malam.
Nanti setelah kita makan malam, baru pak ketua dan anggota melanjutkan
perhitungan suara.
“tunggu sebentar, kami
perlu berdiskusi untuk menjawab tawaran saudara. Kasih kami waktu dua menit”
Setelah berdiskusi
dengan anggotanya pak ketua mengumumkan bahwa rapat perhitungan suara akan
dilanjutkan setelah makan malam.
“mohon maaf para saksi
dan hadirin, rapat perhitungan suara akan kami lanjutkan setelah makan malam,
ya.. meskipun ini adalah tugas Negara yang harus kita laksanakan sebaik-baiknya
tapi kami semua perlu makan, jadi kami skor waktunya. Harap para hadirin dan para
saksi memahami hal ini.
“begini pak, bos kami
bersedia menggelontorkan dana besar untuk memenangkan pemilihannya. Jadi kami
berharap bapak bapak penyelenggara penghitungan suara bersedia bekerja sama
dengan kami”
“ya.. kalau sesuai kami
bersedia membantu bapak untuk memenangkan calon bapak”
“Berapa yang
Bapak-bapak minta?”
“sediakan kami
masing-masing seratus juta, kami Sembilan orang, berarti Sembilan ratus juta”
“baiklah, kalau begitu
saya akan menelpn bos saya dulu..oh ya, mari, mari, mari…makanannya di nikmati
bapak bapak.”
Sambil terkekeh kekeh
lelaki itu menelpn sesorang, setelah mengatakan masing-masing seratus juta
sebanyak Sembilan orang menjadi Sembilan ratus juta. Lelaki yang menelpon itu
hanya menjawab ya, ya, ya, dan ya. Mungkin puluhan kali dia mengulang kata “ya”
dalam pembicaraan telpn itu.
“ehem ehem…Bapak-bapak.
Jadi pad prinsipnya bos kami menyetejui permintan bapak-bapak yaitu seratus
juta untuk masing-masing anggota. Namun, kami akan mencairkan setengahnya dulu.
Karena kami tidak membawa uang cas sebanyak itu. Kan bapak-bapak tau sendiri
bagaiman tajamnya mata pisau di negeri ini..he hhe he….”
“ya, kami mengerti”
“jadi kami bayar
setengahnya dulu, kami bayar masing-masing lima puluh juta, bagaimna?”
Setelah puas
makan-makan dan melipat uang bagian masing-masing, para penyelenggara
penghitungan suara itu tersenyum. Tidak lupa mereka menepuk pipi pelayan café
tempat meeka transaksi itu dan membenamkan seratus ribuan ke dalam kutang
pelayan itu sambil berbisik “sisanya ntar malam setelah perhitungan selesai”
…………
“hadirin, perhitungan
suran akan kita lanjutkan, sekarang kita telah sampai pada rekafitulasi hasil
suara. Maka disini dapat kami umukan bahwa perolehan suara untuk nomor satu
sampai calon nomor 5 mendapatkan nol suara, sedangkan calon nomr 6 mendapatkan
2 buah suara dan calon nomor 7 mendapatkan 100 suara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar